Pro dan Kontra Kenaikan Harga BBM

Sampai hari ini pemerintah kelihatannya masih maju mundur dalam menentukan harga BBM.  (Lagi-lagi ini OPINI-KU yang didasarkan pada UUD’45  pasal 28 yang intinya bahwa setiap warga negara mempunyai hak menyampaikan pendapat lisan, tulisan dan sebagainya secara bertanggung jawab sesuai peraturan perundang-undangan.)

Mengapa sepertinya pemerintah sulit sekali mengambil keputusan ini? Saya berpikir, apakah ada kepentingan kepentingan pihak tertentu yang belum terpuaskan oleh pemerintah? BBM tidak dapat disubsidi lagi oleh APBN, setuju sekali. Sebaiknya APBN digunakan untuk mensubsidi  kepentingan membangun kualitas bangsa. Kualitas yang berarti Masyarakat  Sejahtera, sejahtera berarti mendapatkan sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan. Tidak perlu dengan bantuan langsung tunai, tapi diwujudkan dalam bentuk pemberian kesempatan sekolah seluas-luasnya dan meningkatkan fasilitas kesehatan.  Sekolah (Dasar hingga Tinggi) yang dikelola Negara, harus dapat bersaing dengan sekolah yang dikelola oleh Swasta.  Begitu juga dengan Rumah Sakit. Jangan biarkan ada kesan bahwa Sekolah/Rumah Sakit Negeri tidak bermutu, sehingga orang-orang yang tergolong kelas Atas tidak mau melirik sekolah dan rumah sakit Negeri. Biarlah Sekolah/RS Swasta itu mewah dengan segala infrastrukturnya. Sekolah dan RS Negeri tidak perlu ikut-ikutan. Yang perlu adalah mutu guru/dokter, kurikulum/layanan

Pemerintah kemudian mengatakan, lha kalau Subsidi BBM dihapus, trus harga tidak naik bagaimana pemerintah memenuhi kebutuhan akan BBM di negeri ini? Iseng-iseng buka datanya ESDM yang dipublish di websitenya., trus dikutak-katik, tapi hasilnya kok aneh..  Hasilnya negatif sudah termasuk impor dan ekspor minyak bumi.  Artinya demand  lebih besar dari supply. Percaya ngga? Jujur saya ngga percaya… Mungkin ada data lain yang lebih akurat dan tidak dipublish.. Ya sudah tidak apa-apa.

Sekarang begini aja, kan menurut ulasan ESDM pengguna BBM besar kedua ada di sektor transportasi. Lalu pemakaian terbesar nya ada di produk BBM Premium. Karena rencana tidak ada subsidi, akhirnya harga premium dinaikkan. Tapi ternyata ditolak oleh masyarakat. Lalu, pengalihannya adalah bahwa mobil dengan cc di atas 1500 harus pakai Pertamax. Tapi bingung lagi…mau diberlakukan kapan… Lagi pula, peraturan itu kan tidak mudah pelaksanaannya.

Saya ada usul begini. Kalau memang pengguna BBM terbanyak itu di sektor Transportasi, dan ketergantungan sektor tersebut terhadap BB Fosil masih cukup besar,  pemerintah bisa kok mendapatkan dana dari para pengguna kendaraan bermotor dengan adil dan aman. Caranya bisa melalui Pajak Kendaraan Bermotor.  Pemerintah klasifikasikan saja dulu jenis-jenis kendaraan bermotor, dan konsumsi BBM nya dalam satu tahun. Lalu pemerintah ingin mendapatkan dana berapa dari kenaikan BBM yang diinginkan. Nah, dikonversi aja ke Pajak Kendaraan Bermotor sebagai tambahan Biaya Kontribusi BBM. Buat progresif, maksudnya  berdasarkan klasifikasinya. Semakin mewah mobilnya, semakin tinggi tarif pajaknya. Adil kan? Karena memang pemilik mobil mewah itu, pasti sanggup membayar pajak.  Seperti pajak tanah saja, semakin tinggi klasifikasinya semakin besar tarifnya. Tarifnya ini beda lho dengan Tarif Pajak Kendaraan Bermotor. Harus jelas disebut dalam STNK, bahwa ada tambahan beban pajak untuk BBM sekian persen.

Dengan demikian, pemerintah bisa memprediksi, berapa banyak untuk sementara dana APBN yang digunakan (terhutang) untuk nanti dibayarkan melalui perolehan tambahan tarif Pajak Kendaraan Bermotor untuk BBM. Coba deh dihitung-hitung… lebih pas dan aman dan adil deh… Yang punya uang yang memberikan kontribusi lebih tinggi untuk BBM.

Salam

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s