Bagaimana kita merencanakan masa depan ?

Pada hari pertama mengajar di setiap semester, khususnya pada mahasiswa baru saya selalu menanyakan “Apa tujuan kalian kuliah?” … jawabannya kebanyakan ngga jelas.  Sayang sekali.Namun saya tidak bisa menyalahkan hal ini karena anak-anak muda usia sekolah saat ini terutama di Jakarta, sudah terbiasa dengan kemapanan. Yang paling menyedihkan dari jawaban mereka adalah bahwa ada yang menjawab “Karena terpaksa dan disuruh orang tua..”  Padahal saya sendiri berusaha mencari jalan agar saya bisa kuliah dan memenuhi cita-cita saya…

Baik, kembali ke masalah masa depan, pada tulisan sebelumnya saya mendefinisikan masa depan adalah keadaan kita menjelang saat kita meninggalkan dunia ini. Wow!!! seperti apa itu? Tua renta miskin sakit-sakitan, atau Tua tapi masih gesit sehat dan kaya? Pastinya kita milih opsi yang kedua kan?

Lalu, kalau opsi kedua yang menjadi pilihan kita, pertanyaan berikutnya adalah  “apakah Anda sudah merencanakan masa depan yang Anda inginkan?”  Reaksi atas pertanyaan tersebut tentunya berbeda pada setiap orang tergantung pada usia, tingkat pendapatannya, pola pikirnya, bahkan mungkin pendidikannya. Bahkan jika pertanyaan itu kita lemparkan kepada orang yang sangat religius, jawabannya sudah pasti…”masa depan saya ada di tangan Tuhan”  Lalu ada lagi sesuatu yang kita percaya yaitu lahir, jodoh, rejeki dan maut Tuhan yang menentukan.

A..ha..!!! setuju..!!.tapi ingat Tuhan hanya akan menolong hambaNya yang mau berusaha menolong dirinya sendiri. Tuhan tetap ingin kitalah yang aktif mengusahakan apa yang menjadi tujuan kita, sementara kita berdoa memohon bantuan dan ridho dari-Nya.

Ketika saya berbincang-bincang dengan banyak orang tua, saya sering mendapatkan bahwa kebanyakan (berarti tidak semua) orang tua generasi  abad 21  bekerja sekuat tenaga untuk menjamin masa depan anak-anak mereka. Apalagi yang berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah, orang tua abad 21 ini menginginkan agar anaknya tidak susah seperti yang mereka alami. Sehingga, satu hal yang terlewatkan dalam perencanaan orangtua modern ini adalah bagaimana mereka menjamin hidup mereka sendiri di masa tuanya yang nota bene bisa kita sebut di masa depannya.

Lagi-lagi budaya kita adalah budaya kekeluargaan. Sehingga tidak jarang masih ada pemikiran para orang tua yang akan menggantungkan masa depannya pada anak-anaknya kelak, karena mereka bekerja saat ini untuk masa depan anaknya. Masalahnya adalah apakah pola budaya ini bisa kita pertahankan selamanya?Pada tahun-tahun  mendatang…budaya itu bisa saja berubah total. Orang tua tidak lagi bisa menggantungkan masa depannya atau hidup masa tuanya pada anaknya.

Jadi….mau tidak mau…kita harus berhitung bukan? Bagaimana cara berhitungnya? Kita bahas di tulisan berikutnya ya..

One thought on “Bagaimana kita merencanakan masa depan ?

  1. Ditunggu lanjutan bahasannya…
    Trims.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s