Kebodohan vs kelicikan

Dalam perjalanan ke Pontianak penumpang di belakangku seorang ibu kebingungan karena tidak tahu akan kemana. Sehingga dia bertanya pada penumpang di sebelahnya…apa yang harus dilakukan setibanya dia di Pontianak. Rupanya si ibu seorang calon TKI yang mungkin mau dikirim ke Malay atau S’pore. Si Ibu ketakutan karena dia sebenarnya tidak mau dikirim ke luar negeri. Sewaktu di kampung tidak disebutkan dia akan dikirim kemana, cuma ditawari kerjaan. Entah diberi iming-iming apa si ibu dan keluarganya memutuskan setuju ikut si calo, si ibu dan dibawa ke Jakarta. Tetapi rupanya tanpa sepengetahuannya, si calo membuatkan paspor tetapi tetap tidak mau memberi tahu kemana si ibu dan  teman-temannya akan dipekerjakan. Bahkan ketika mereka di Jakarta, mereka di karantina dan tidak boleh mengadakan kontak per telpon dengan keluarganya di kampung.

Akhirnya kami penumpang yang dengar menyarankan agar si ibu melaporkan diri ke polisi sesampainya di bandara Supadio.  Beberapa penumpang menyarankan juga supaya si ibu tidak menunjukkan sikap bingung atau linglung.  Yah…tapi kupikir rasanya tidak ada harapan bagi si ibu. Aku sempat bilang ke si ibu kenapa bingungnya setelah naik ke pesawat…seharusnya begitu akan naik pesawat si ibu lapor ke polisi di bandara Sukarno-Hatta. Jadi kalau harus balik ke kampung kan ongkosnya tidak mahal karena kampungnya di Bandung. Tapi ya namanya bingung dan sekaligus kurang tanggap, ya tidak bisa disalahkan.

Pelajaran yang kupetik dari kejadian itu adalah:

1. Kebodohan sangat berbahaya karena saat ini belum ada perlindungan bagi orang bodoh.

2. Kebiasaan untuk  “teliti sebelum membeli” rupanya masih belum dibudayakan, sehingga mudah terjebak. Kita mungkin lebih sering menggunakan pemikiran “lihat gimana nanti”.

3. Banyak orang yang tidak mengupayakan memberantas kebodohan, namun justru lebih memanfaatkan kebodohan dengan kelicikannya.

4. Pemerintah masih belum serius menggarap pengiriman TKI/TKW  ke luar negeri. Hal sepele seperti itu kok kayaknya ga bisa mengatasi.

Yang bisa meminimalkan kejadian seperti ini hanya “Badan Imigrasi”. Badan Imigrasi adalah PINTU dan petugas Imigrasi adalah PENJAGA PINTU dan yang memegang KUNCI PINTU. Jadi kalau PENJAGA DAN PEMEGANG KUNCI PINTU memiliki mental yang buruk dan tidak memiliki integritas….kejadian seperti ini akan terus saja berlangsung. Selain itu Departemen Tenaga Kerja juga sekarang ini hanya bisa menggarap Undang-Undang Ketenaga Kerjaan yang isinya hanya tuntutan, tanpa mempedulikan kompetensi tenaga kerja.

Semoga bangsa ini segera terbebas dari kebodohan… nah…berarti satu lagi yang harus terlibat…yaitu Departemen Pendidikan.

Ayolah….mulailah bekerja untuk kepentingan bangsa jangan memikirkan kepentingan diri sendiri. Terimakasih.

4 thoughts on “Kebodohan vs kelicikan

  1. dewo says:

    Iya, mari kita galakkan pendidikan untuk memberantas kebodohan. Dimulai dari diri sendiri kemudian ke sekitar kita. Kita pun harus turut mendidik & mengajar orang2 di sekitar kita.

    Salam.

  2. mbelgedez says:

    Waduh…???
    Kenapa ndak dibimbing ke polisi sekalian boss….???
    Kasian loh,.. ntar terlunta-lunta…. 😦

  3. lyntrias says:

    Setuju pakde

    Nah…waktu turun si ibu sudah ngacir…
    Doain aja semoga selamat…

  4. Setuju Bune, mari kita doakan. Eh… sudah telat ya? BTW, Semoga si ibu selamat dan dapat kembali berkumpul bersama keluarganya. Amin.

    GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s