Kehidupan Beragama (lanjutan Comment di blog Dewo)

Sedari kecil orangtua ku sangat ketat dalam mendidik keagamaan anak-anaknya. Sehingga aku tau dan sangat paham ajaran Katolik. Dan aku selalu berusaha untuk bisa menjalankan ajaran agama Katolik dengan baik. Tetapi aku sangat hati-hati membicarakan atau membahas hal tentang agama. Yang lebih penting bagiku adalah bagaimana aku menjalani kehidupanku seturut dengan ajaran agamaku. Dan yang terlebih penting lagi bagiku adalah bahwa Yesus Kristus, Nabi Mohammad S.A.W, atau semua yang diagungkan pada setiap agama bukan sosok yang perlu diperdebatkan. Melainkan sosok yang perlu diteladani.

Para pemeluk agama Kristen/Katolik harus berusaha meneladani Yesus dan mengikuti ajarannya, para pemeluk agama Islam harus berusaha meneladani Nabi Mohammad dan mengikuti ajarannya, demikian juga para pemeluk agama Buddha, Hindu.

Sah-sah saja sih, kalau kita ingin mendalami lebih jauh mengenai ajaran agama kita masing-masing dan juga mengenai Tuhan yang kita sembah. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa Tuhan adalah misteri. Akal budi manusia tidak akan sanggup memahami sosok Tuhan. Yang bisa kita pahami adalah ajaranNya dan kemurahan hatiNya yang sungguh besar.

Jangan sampai keyakinan kita terhadap agama kita menjadikan kita sombong dan merasa bahwa kitalah yang paling benar. Iman akan Yang Maha Tinggi adalah suatu proses pergelutan manusia di dalam pengalaman hidupnya. Dalam keseharian orang bisa saja jatuh dan tumbang, tapi juga bisa bangkit berdiri karena masih ada harapan. Dan harapan pada pertolongan Tuhan adalah bagian dari iman. Dengan menjalani proses pergulatan hidup, kita pasti mengalami Kasih Allah yang begitu besar. Kesaksian atas Kasih Allah yang begitu besar itulah yang hendaknya kita bagikan.

Contoh saja, pada saat azan Maghrib dikumandangkan melalui media televisi kita melihat ada kalimat yang berbunyi, ” aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah” atau kita sering mengucapkan “Allahhu Akbar, Allah Maha Besar”…. Atau kita sering mendengar kan lagu-lagu rohani yang kata-katanya “Aku mengagungkan Tuhan”, atau “Yesus Engkau baik, sungguh baik amat baik”, atau “Allah kuasa melakukan segala perkara…” dan banyak lagi kalimat-kalimat yang aku tidak bisa tuliskan.

Nah, kalau kita sudah mengucapkan, atau sudah menyanyikan….sungguhkah kita sudah mengalami sendiri mukjizat atau kasih Allah atau kebesaran Allah? Dalam peristiwa apa? Sudahkah kita bersaksi? Yang jelas kita tidak akan mengalami kasih Allah bila tidak ada kerendahan hati. Kerendahan hati menimbulkan sifat pelayanan. Sikap melayani menimbulkan rasa Kasih. Dengan adanya Kasih kita menjadi lebih sabar dan tabah.

Kesaksian, kerendahan hati, pelayanan, ketabahan adalah bagian dari pelaksanaan iman. Maka iman, harapan dan kasih seperti satu kesatuan “bahan bakar” yang menjalankan motor hidup menuju Allah dan bersama Allah.

Duh…jadi kotbah nih. O ya…beberapa kalimat di atas ada yang saya ambil dari buku “Kesombongan Manusia vs Kemurahan Allah” yang ditulis oleh Dr.Theol. Leonardus Samosir, OSC.

8 thoughts on “Kehidupan Beragama (lanjutan Comment di blog Dewo)

  1. dewo says:

    Wah, Bune memang hebat.
    Aku setuju banget dengan komentar Bune.

    Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa Tuhan adalah misteri.

    Bener banget. Semoga tulisan ini dapat menjadi berkat bagi banyak orang.

    Oh iya, tentang pengalaman kebesaran Tuhan aku menuliskannya di:
    http://emanuel.wordpress.com
    (Tuhan beserta kita)

    Tuhan memberkati.

  2. lyntrias says:

    Aku lebih suka tulisan-tulisan seperti itu ketimbang tulisan perdebatan ajaran agama. Mungkin karena aku tidak sehebat dan sepintar dirimu.
    Semoga lebih banyak lagi kesaksian yang ada.

    Tuhan memberkati

  3. mbelgedez says:

    Terus yang sombong siapa….???

  4. Bune says:

    hehehe….yang sombong ya manusia

  5. Ferry ZK says:

    ==> “Jangan sampai keyakinan kita terhadap agama kita menjadikan kita sombong dan merasa bahwa kitalah yang paling benar”

    Jika kita yakin tentu kita yakini agama kita yang paling benar… sah – sah saja asal bukan “kita yang paling benar” ini hal yang berbeda.

    Sombong adalah cermin kurang keyakinan, teguh meyakini “agama kita yang paling benar” belum tentu kesombongan bisa jadi kekuatan iman bukan ?

    setuju bune “kerendahan hati” mendekatkan kita kepada Tuhan, “keteguhan hati” akan iman tidak berarti kurang rendah hati bukan ?

  6. lyntrias says:

    Hmm kayaknya pernyataan mas ferry pada alinea 2 kontradiktif dengan alinea 3.

    Mungkin pernyataan ini lebih tepat:
    >>>kita meyakini agama yang benar menurut kita, orang lain juga meyakini agama yang benar menurut mereka<<<<

    Kayak ujian aja deh, kalau semua benar kan dapat 100.

  7. Ferry ZK says:

    apanya yang kontradiktif ???

    barangkali cuma kurang koma aja…

    maksute :

    teguh meyakini “agama kita yang paling benar” belum tentu kesombongan,

    bisa jadi kekuatan iman bukan ?

    gicu….

    ==> “kita meyakini agama yang benar menurut kita, orang lain juga meyakini agama yang benar menurut mereka” …ehm… begitulah he.. he..

  8. Dejavu says:

    Suejuk…suejuk…suejuuuuk deh bune

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s