Sedih dengan tayangan SiDik

Suatu hari aku melepaskan kepenatanku setelah bekerja seharian dengan menonton televisi. Kebetulan siaran yang aku tangkap adalah “SiDik”. Dalam tayangan ini disiarkan mengenai penggebrekan rumah yang kabarnya sudah cukup lama diamati oleh penduduk sekitar bahwa di rumah tersebut tinggal sepasang manusia yang tidak menikah resmi. Yahh…istilah kerennya “koempoel kebo” gitu lho.

 Menyaksikan tanyangan itu, terus terang perasaan iba ku tergugah. Melihat pasangan itu ketangkap basah dalam keadaan “nude”. Duh..!!! saya jadi mikir, yang keterlaluan itu para penggebrek atau pasangan yang “koempoel kebo” itu.

Saya hanya bisa geram melihat pasangan itu diperlakukan seperti binatang. Apakah tidak ada cara yang lebih manusiawi untuk itu?

Tetapi kalau saya pikir lebih jauh lagi, kenapa aparat atau masyarakat terlalu mengurus hal-hal yang sebenarnya sifatnya pribadi dan itu tanggung jawab individu.

Bukannya saya mendukung ‘koempoel kebo”. Tapi perlu dicatat bahwa “koempoel kebo” menurut saya beda dengan praktek prostitusi. Sebaiknya tokok masyarakat (Rt, Rw, Lurah) melakukan pendekatan dengan menanyakan surat penduduk, surat catatan sipil dan sebagainya. Itu lebih manusiawi. Siapa sih diantara mereka yang menggerebek itu yang “tidak berdosa”??

3 thoughts on “Sedih dengan tayangan SiDik

  1. dewo says:

    Orang-orang yg menggerebek dan menganiaya itu sok manusiawi dengan menghakimi orang yg berdosa, padahal mereka bukan manusia.

    Salam.

  2. Julia says:

    Ikut berduka

  3. lina says:

    Hehehe…kok berduka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s