Menyikapi Rencana Reshuffle Kabinet dari Perspektif Manajemen

Memimpin suatu Negara tidak ada bedanya dengan memimpin suatu perusahaan. Ada 2(dua) hal pokok yang dibutuhkan untuk memimpin yaitu pertama Leadership skill (ketrampilan kepemimpinan) dan kedua Manajerial Skill (ketrampilan manajemen).

Dalam Leadership Skill yang dibutuhkan adalah ketrampilan berkomunikasi, ketrampilan membina hubungan horisontal dan vertikal, ketrampilan memotivasi yang dalam satu kalimat bisa kita sebutkan ketrampilan menggerakkan orang-orang yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan.

Dalam Managerial Skill yang dibutuhkan adalah ketrampilan mengelola sumberdaya, ketrampilan memasarkan, ketrampilan dalam proses internal yang dalam satu kalimat bisa kita sebutkan ketrampilan dalam menelurkan strategi-strategi dalam berbagai situasi dan keterbatasan sumberdaya yang dimiliki.

Pada setiap pengelolaan suatu proses baik skala besar maupun skala kecil, ada 3(tiga) unsur yang terlibat yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, yaitu Sistem, Prosedur dan Orang. Jika salah satu dari unsur tersebut tidak ada, maka aktivitas tersebut tidak dapat berjalan dengan baik. Yang terpenting dari ketiga unsur tersebut adalah ’orang’. Sebab sistem dan prosedur diciptakan oleh orang dan dijalankan oleh ’orang’. Unsur orang di sini ibarat lagu dangdut ”kau yang berjanji kau yang mengingkari, kau yang mulai kau yang mengakhiri”

Jika kita hubungkan dengan Leadership Skill dan Manajerial Skill, maka ketiga unsur tersebut dapat kita bagi sebagai berikut:

Leadership Skill lebih difokuskan pada unsur Orang

Managerial Skill lebih difokuskan pada unsur Sistem dan Prosedur.

Negara kita atau perusahaan kita tercinta membutuhkan pemimpin yang memiliki Leadership Skill dan Managerial Skill yang excellent. Bila hanya satu saja yang dimiliki maka kepemimpinannya akan pincang. Karena sekalipun fokusnya terbagi tetapi keduanya merupakan satu kesatuan.

Reshuffle atau di dalam perusahaan biasa kita sebut reorganization atau dalam lingkup lebih sempit lagi bisa kita katakan job rotation memang diperlukan. Tujuannya adalah agar terjadi synergi yang lebih seimbang, produktif dan efektif.

Kapan sebaiknya reshuffle atau reorganization ini dilakukan? Tentunya tidak bisa dari kata puas-tidak puas atau suka-tidak suka seorang pemimpin terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Kalau kita mengacu pada Strategic Human Resources Management tentunya sebelum kita memilih orang-orang yang akan membantu kita mencapai tujuan, kita mengadakan proses seleksi atau recruitment yang mengacu pada job specification dari suatu jabatan yang harus diisi. Di sini kita hilangkan dulu faktor negatif yaitu faktor subyektif yang tentunya terkait dengan kolusi dan nepotisme.

Setelah kita memilih kita melakukan proses lanjutan yaitu mengelola orang-orang yang kita pilih. Di sini mulailah Leadership Skill pemimpin diuji. Mampukah dia mengarahkan, memotivasi, menggerakkan orang yang dipilihnya untuk membantunya dalam mencapai tujuan bersama? Hingga pada akhirnya pemimpin akan dihadapkan pada masalah bahwa ternyata orang yang dipilihnya kurang tepat untuk tetap ditempat dan melakukan tugas yang telah diberikan. Pada saat itulah pemimpin akan berusaha membina terlebih dahulu baru kemudian memikirkan untuk mengganti dengan orang yang lebih tepat. Dalam keadaan seperti ini dapat dilakukan job rotation atau reorganization atau reshuffle.

Di sisi lain pemimpin dihadapkan pada masalah situasi yang menyebabkan timbulnya strategi-strategi baru untuk menghadapi situasi agar negaranya atau perusahaannya tetap berada dalam kondisi aman dan berkembang. Di sini mulai muncul pemikiran apakah orang-orang yang membantunya sekarang masih sesuai dengan kebutuhannya untuk menjalankan strategi-strategi barunya. Jika tidak, dalam kondisi ini dapat dilakukan reshuffle.

Jadi, reshuffle maupun reorganization adalah positif sejauh tidak ada kepentingan pribadi atau conflict of interest dari sang pemimpin dan yang dipimpin. Reshuffle di negara kita ini tidak harus di tingkat menteri sebagai pembantu langsung presiden, tetapi juga harus mengalir ke bawah.

Kembali pada topik semula yaitu menyikapi rencana reshuffle dari perspektif manajemen, dapat kita katakan bahwa ketrampilan memimpin dan mengelola SBY sungguh di uji. Memang jika dalam satu periode pemerintahan yang jika diukur dengan waktu adalah singkat yaitu 5(lima) tahun, dilakukan sampai lebih dari satu kali reshuffle dapat dikatakan ada yang tidak beres dalam ketrampilan SBY baik dalam Leadership Skill-nya maupun Managerial Skill-nya.Jika saat ini SBY ingin melakukan reshuffle hendaknya didasari oleh kebutuhan untuk mencapai tujuan negara bukan untuk kepentingan pribadi, apalagi jika reshuffle dilakukan hanya atas desakan oleh orang-orang tertentu.

Mengapa bisa diambil kesimpulan demikian? Pertanyaan tersebut harus dijawab dengan jawaban pertanyaan berikut:

Apakah SBY sudah melakukan recruitment yang tepat dan obyektif?

Dalam menjalankan fungsinya, apakah SBY mengelola atau justru dikelola?

One thought on “Menyikapi Rencana Reshuffle Kabinet dari Perspektif Manajemen

  1. dina mardhatillah says:

    kepemimpinan & manajerial skill

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s