Membelanjakan Waktu

Kata orang bijak “waktu adalah uang”, menurut saya waktu lebih daripada sekedar uang. Kalau kita kehilangan uang kita masih bisa mencarinya, tetapi kalau kita kehilangan waktu kita tidak berdaya menggantikannya.

Sebagai seorang karyawan, terlebih karyawati harus pandai membelanjakan waktu supaya tidak ada waktu yang dibelanjakan untuk hal yang tidak bermanfaat. Kalau kita telah salah membelanjakan uang kita bisa bilang, “ya sudah saya akan cari uang lagi untuk membelanjakan yang seharusnya”. Tetapi kalau kita salah membelanjakan waktu, kita tidak bisa bilang saya akan cari waktu lagi supaya bisa membelanjakannya lagi.

Saya pernah mencoba mengevaluasi bagaimana saya membelanjakan waktu. Hasilnya sungguh membuat saya prihatin. Bayangkan saya menghabiskan waktu setiap hari di jalan bisa 4 jam, di tempat kerja 9 jam, sisa 11 jam. Untuk menjaga kesehatan saya perlu tidur minimal 6 jam. Jadi masih sisa 5 jam. Untuk membayar kelelahan di jalan dan di tempat kerja (makan malam, nonton televisi sejenak, baca koran/majalah) 1 jam. Masih sisa 4 jam. Saya gunakan lagi untuk merawat badan dan wajah 1-2 jam (pagi dan sore), jadi masih sisa 2 jam. Saya tertegun dan berpikir, kalau begitu kapan waktu saya untuk anak saya? Hari Sabtu saya membelanjakan waktu saya lebih banyak di organisasi. Hari Minggu juga banyak disita oleh urusan keluarga besar.

Model pembagian seperti saya ini, banyak terjadi pada karyawati perusahaan swasta di kota-kota besar. Akhirnya yang menjadi korban adalah anak-anak. Mereka hanya diurus oleh baby sitter atau pembantu rumah tangga. Akibatnya mereka banyak dipengaruhi oleh gaya dan kebiasaan si baby sitter atau pembantu rumah tangga. Yang sering dialami adalah bahwa anak kita menjadi tidak patuh pada peraturan kita dan akibatnya kita jadi sering tidak sabar menghadapi tingkah anak kita karena kelelahan fisik yang kita alami.

Banyak yang mengatakan bahwa yang penting kualitas waktu pertemuan dibandingkan kuantitasnya. Benar, tetapi ini sulit sekali diukur. Kualitas pertemuan itu seperti apa? Lag indicator dari kualitas pertemuan adalah keluarga yang bahagia. Tetapi lead indicator nya banyak sekali diantaranya kualitas komunikasi, kondisi badan, kondisi ekonomi, suasana hati dan pikiran. Tapi, kalau cuma 2 jam sehari ketemu anak, apakah kita bisa mendidik anak kita secara maksimal?

Tantangankah ini…? atau hambatan…? Bagi yang berpikir positif hal ini merupakan tantangan terlebih bagi para pebisnis. Ini bisa jadi ide bisnis baru lho…..

7 thoughts on “Membelanjakan Waktu

  1. Orang bijak berkata: “waktu adalah uang.” Maksudnya adalah bagaimana mengkonversi waktu kita menjadi uang, karena hanya dengan waktu kita bisa menjual otak dan otot kita. Jangan sampai kita mempergunakan waktu dengan sia-sia, karena waktu kita akan habis.–>

  2. htodzjrc says:

    megeipqba…

    urqrwfys verrkifgmc hxbuavbxe…

  3. tes says:

    koemn apa yah???

  4. tes says:

    ok deh gut idea

  5. tes says:

    hidup atau waktu untuk uang yah?

  6. tes says:

    nais inpo gannn

  7. tes says:

    tes tis aja…. yg punya blog kemana niy?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s