Kehilangan Teman

Tepat menjelang berakhirnya Tahun 2005, aku kehilangan seorang teman, namanya Anna. Dia pergi untuk memasuki kehidupan yang kekal menghadap kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Memang ini pertama kali aku kehilangan teman. Dengan kepergian temanku ini, aku memetik suatu hikmah yang akan semakin memperbaiki kualitas persahabatanku.

Hanya karena suatu kesalahpahaman, hubungan persahabatan kita bisa pecah. Dan tidak enak sekali merasakan pecahnya persahabatan. Walaupun dari pihak kita sudah melupakan semua kejadian yang tidak mengenakan, tetapi itu tidak cukup kalau dari pihak sahabat kita tidak mau membuka diri untuk suatu kata maaf dengan tulus.
Dalam kasus yang aku alami, mungkin kata maaf sudah saling diucapkan dalam hati, tetapi tidak diungkapkan langsung. Sehingga hubungan komunikasi menjadi terputus. Ternyata hubungan komunikasi yang sempat terputus karena kesalahpahaman tidak dapat disambung dengan mudah. Dengan temanku ini komunikasi sempat terputus kurang lebih 3(tiga) tahun. Sesekali aku mencoba sms tetapi tidak ada response.

Aku mengakui sikapku dulu yang cenderung reaktif untuk suatu masalah. Sekarang ini dengan semakin bertambahnya usia dan juga semakin berkembangnya komunitasku, aku sudah lebih bisa memperbaiki sikapku. Memang kita akan semakin dimatangkan melalui peristiwa-peristiwa yang kita alami asalkan kita selalu bersedia setiap kali merenungkan hikmah dari peristiwa yang kita alami.

Akibat putusnya komunikasi kami, aku tidak tahu lagi bagaimana keadaannya. Padahal aku tahu kehidupannya yang kurang menguntungkan, dan dulu dia begitu dekat untuk setiap kali menceritakan suka dan duka yang dia alami. Kami dulu sempat memulai bisnis di bidang Event Organizer. Kami sudah membuat 3(tiga) event bekerja sama dengan Bursa Buku (group Gramedia). Banyak kenangan manis yang kami lalui selama kami menjalankan bisnis tersebut selama hampir 2 tahun.

Aku mendapat berita kepergiannya dari teman dikelompok kami namanya Ita. Dia hanya memberitahu bahwa Anna sudah meninggal di Rs. Carolus. Ita tidak menyebutkan kapan dan dimana akan dimakamkan. Dan sayang sekali, sms Ita baru terbaca olehku tanggal 2 Januari ’06 pagi. Padahal Ita memberitahu tanggal 1 Januari ’06 siang. Di sini aku belajar bahwa handphone sebaiknya standby 24 jam.

Tgl. 2 Januari pagi langsung aku mencoba menghubungi Ita, tapi tidak bisa nyambung. Sampai jam 10.00 aku coba hubungi, tapi tidak bisa. Aku coba teman yang satu lagi (Priska), tapi sayang sekali, nomornya tidak terekam. Mungkin dulu tidak terekam waktu aku ganti handphone kurang lebih 2 tahun yang lalu.
Di samping itu, selama persahabatan kami, aku hanya tahu nomor handphone-nya dan nomor telpon rumah kakaknya. Tetapi sayang sekali aku tidak memelihara catatan nomor telpon dengan baik. Yang kurekam di HP-ku hanya nomor HP-nya. Sehingga aku pada saat itu tidak menghubungi siapa-siapa. Tapi aku tetap pergi ke Carolus dengan harapan masih bisa memberi salam perpisahan terakhir atau paling tidak aku bisa dapatkan no telpon keluarganya.
Dari sini aku belajar untuk memelihara catatan kontak teman-teman dengan baik. Aku akan mencoba untuk melengkapi data teman-temanku dengan alamat rumah dan nomor telepon rumah. Akan lebih baik lagi kalau kita tahu keluarganya. (Nama istri/suami, nama anak, atau nama orangtua kalau teman kita masih single). Di samping memelihara catatan kontak, juga harus selalu keep contact
at least sekali sebulan.

Mungkin pembaca bisa menilai betapa cerobohnya aku dan buruk sekali sikapku. Tapi itulah, semoga dengan ini aku bisa menjadi lebih baik lagi.

Anna, aku ucapkan selamat jalan. Aku percaya kamu akan mendapat ketenangan dan kebahagiaan di sisi kanan Allah Bapa. Semoga kamu bisa memaafkan aku dengan tulus ikhlas sebagaimana aku telah memaafkan kamu dengan tulus jauh sebelum kamu pergi. Di tempatmu yang baru kamu akan bertemu dengan mama dan papa kamu. Kamu pasti senang sekali, mereka akan menyambut kamu. Jangan lupa mendoakan aku yang masih mengembara di dunia ini.

One thought on “Kehilangan Teman

  1. Thia says:

    aku bisa rasakan bagaimana pedihnya, aku juga pernah hampir kehilangan sahabat karena keegoisan semata, sekarang kami sudah bersahabat kembali, setelah 5 tahun berselisih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s