Menjadi Orangtua

Saya banyak bergaul dengan orang-orang yang berusia lebih tua dari saya. Mereka berusia antara 40 tahun hingga 76 tahun. Ada yang mempunyai anak masih usia dini dan ada yang sudah mempunyai cucu belasan orang.

Bergaul dengan mereka membuat saya banyak memahami apa yang diharapkan oleh orang tua dari anak-anaknya, apa yang membuat mereka bahagia dan apa yang membuat mereka sedih.

– Ada yang mengharapkan anaknya sukes dalam karir sehingga kelak bisa menjamin kehidupan orangtuanya.
– Ada yang mengharapkan anaknya mendapat rangking di sekolahnya
– Ada yang mengharapkan anaknya menjadi anak yang soleh
– Ada yang ingin agar anaknya menjadi terkenal.

Harapan-harapan tersebut baik dan kebanyakan dimiliki oleh orangtua yang memiliki anak masih di usia dini sampai sebelum anak menikah.

Setelah anak mereka menikah, ternyata hanya ada satu hal prinsip yang menjadi harapan orang tua yang mengalahkan seluruh harapan-harapan tersebut di atas yaitu “agar anak-anaknya memperoleh kebahagiaan dan kelanggengan dalam rumah tangga mereka”. Ketidakbahagiaan anak-anaknya sungguh merupakan suatu kesedihan yang luar biasa bagi mereka.

Dari situ saya belajar bagaimana saya harus memperlakukan anak-anak saya agar mereka dapat meraih kebahagian. Akhirnya saya berprinsip bahwa anak-anak saya harus bahagia sejak dini, supaya mereka bisa memberikan kebahagiaan bagi keluarga mereka. Bahagia di sini bukan berarti materi melainkan lebih kepada jiwa.

Saya mempelajari bahwa kebahagiaan itu menular. Dengan memberikan kebahagiaan pada keluarganya mereka pun akan mendapatkan kebahagiaan. Sebab dengan memberi kita menerima.

Saya bertekad untuk mampu menjadi orangtua sekaligus sahabat yang baik bagi anak-anak saya. Tidak mudah memang, karena sebagai orangtua seringkali timbul rasa ego untuk menjadi penguasa kehidupan anak-anak. Terutama bila kita terobsesi dengan harapan-harapan kita seperti yang telah saya sebutkan di atas.
Saya berprinsip bahwa saya akan lebih menekankan pendidikan moral dan etika. Sedangkan untuk hal-hal lain akan saya serahkan sepenuhnya kepada daya kreatifitas dan bakat mereka.

Satu hal yang saya tidak akan lupa pesan dari salah satu orang tua yang menjadi teman saya adalah bahwa jangan pernah merasa sakit hati bila suatu saat anak kita akan meremehkan kita dan merasa dirinya paling benar dan superior. Bila itu terjadi tugas kita sebagai orang tua untuk meluruskan pandangannya jika pandangan itu keliru atau membenarkannya jika padangan mereka terhadap kita benar.

Semoga Tuhan senantiasa membimbing saya dan anda sekalian untuk menjadi orangtua yang mampu menciptakan anak-anak yang bahagia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s