Untuk Sahabatku

Dalam kehidupan saya, baru sekarang ini saya menemukan teman yang saya anggap lebih dari sekedar teman, saya anggap dia sahabat. Saya memang membedakan apa arti teman dan sahabat. Persahabatan maknanya lebih dalam dari pertemanan, bahkan juga lebih bermakna dari kekeluargaan.

Setiap hari kita berinteraksi dengan orang-orang sekitar kita. Yang terdekat adalah keluarga kita istri/suami, anak, kakak-adik, orangtua; kemudian tetangga kita, rekan kerja kita, pergaulan sosial, teman sekolah dan orang-orang yang kita temui dalam perjalanan.
Keluarga, walaupun secara fisik dekat, tapi tidak serta merta menjadi sahabat kita. Mereka justru lebih banyak menilai kita, melarang ini dan itu, mengharuskan ini dan itu. Kebanyakan mereka ingin agar kita menjadi apa yang mereka kehendaki. Seringkali kita justru tidak bisa terbuka dengan mereka.
Tetangga, walaupun kita kenal dekat mereka hanya sekedar teman. Mereka justru lebih berperan sebagai spionase.
Rekan Kerja, setiap hari kita bertemu bahkan untuk waktu yang paling lama kita habiskan dalam sehari. Mereka baik tetapi kalau sudah sampai pada urusan karier, biasanya belangnya ketahuan.
Pergaulan sosial, untuk hal yang satu ini kita berkumpul hanya sekali-sekali dan kalau sudah berkumpul urusannya sudah bicara macam-macam yang membuat kita tidak bisa saling mendekatkan diri sebagai saudara.
Teman sekolah/kuliah, biasanya di sini lingkungan yang paling enak untuk bergaul. Tapi selesai masa belajar biasanya bubar dan masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri.
Dari lingkungan yang saya sebutkan di atas, di salah satunya kita bisa menemukan sahabat kita.

Saya menemukan sahabat pada saat saya kuliah untuk mengambil gelar MM. Banyak nilai-nilai kehidupan kami yang sepaham. Mungkin karena itu kami cocok sekali dalam mendiskusikan sesuatu. Saya banyak mendapat semangat dari dia dalam meniti kehidupan. Kami sudah seperti saudara. Kami saling memuji, mengkritik, menyayangi dan memarahi.
Kami saling mengenalkan anggota keluarga kami masing-masing. Sayangnya masih belum ada kesempatan untuk lebih mengenalkan secara dekat keluarga kami.

Dia selalu menyemangati saya dalam menggali potensi diri dan mengembangkannya menjadi karya yang nyata. Saya selama ini nyaris tidak pernah lagi menggali kompetensi yang saya miliki, bahkan tidak pernah menyadari kalau saya punya kompetensi.
Semoga persahabatan kami tidak berakhir dan dapat memberi manfaat bagi orang-orang disekitar kami.

Terimakasih Dewo, sahabatku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s