Posted by: lyntrias | February 26, 2008

RAT XXII Koperasi Bina Seroja

sampul-rat.jpgMinggu 23 Februari 2008, saya menghadiri Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Bina Seroja. Ini merupakan keikutsertaan saya yang kedua dalam RAT karena saya baru menjadi anggota koperasi ini awal tahun 2007. Saya senang dan merasa wajib menghadiri RAT karena koperasi ini adalah milik saya. Sebagaimana prinsip koperasi, RAT adalah jenjang tertinggi dalam struktur organisasi koperasi, karena anggota adalah juga pemilik dari Koperasi. Lebih jauh mengenai perkoperasian akan saya ulas tersendiri lebih lanjut.

Koperasi Bina Seroja adalah salah satu Koperasi Kredit (Kopdit) yang tergabung dalam wadah Credit Union (CU) yang bermarkas di Jerman yang tetap memperhatikan asas perkoperasian yang telah dicanangkan pada Kongres Koperasi 12 Juli 1947. Kopdit Bina Seroja yang pada awal berdirinya hanya beranggotakan 20 orang, saat ini telah mencapai 1296 orang dengan total asset lebih dari 16milyard. Read More…

Posted by: lyntrias | February 13, 2008

Ibu Koordinator Kopertis II Palembang

Saya sangat terkesan dengan sosok Prof. Chuzaimah Dahlan Diem, M.L.S., Ed.D. Beliau sangat ramah dan low profile. Kedatangan Tim Sisfo Kampus disambut dengan penuh kehangatan dan kekeluargaan. Saya melihat dalam diri beliauibu-koordinator.jpg semangat pelayanan yang sungguh-sungguh.

Keinginan beliau untuk memajukan perguruan tinggi yang berada di bawah naungan Kopertis II terlihat nyata dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Termasuk salah satunya keberaniannya mengambil tindakan-tindakan yang beresiko tinggi terhadap keuangan kopertis, karena beliau memulai semua pekerjaan-pekerjaan pengembangan IT tanpa menunggu turunnya dana dari Dikti.

Meskipun beliau sudah hampir memasuki usia masa pensiun, namun semangatnya tetap tinggi dan beliau terlihat sangat enerjik.

Selamat berkarya terus Ibu. Semoga Kopertis II Palembang semakin maju di bawah pimpinan Ibu.

Posted by: lyntrias | February 13, 2008

Sungai Musi dan Jembatan Ampera

Sungai Musi malam hari kata orang itulah wajah Palembang…cantik mempesona. Tentunya aku tidak maucimg0203_resize.jpg melewatkan cimg0220_resize.jpgmalam hari begitu saja. Meskipun tadinya aku sempat ragu untuk keluar karena harus mempersiapkan diri untuk berseminar besok dan Siska yang maniak bola tidak mau melewatkan tayangan final PSMS dan Sriwijaya.

Akhirnya dibantu oleh pak Sarijan driver Kopertis II Palembang, aku dan Siska  (pak Sofian ga ikut karena ada meeting)berkeliling kota Palembang dan ngepos di bawah Jembatan Ampera. Rupanya di situ sedang ada acara nonton bareng pertandincimg0214_resize.jpggan final Sriwijaya dan PSMS. cimg0199_resize.jpgHmm….tanpa ragu-ragu Siska yang maniak bola langsung aja nongkrong nonton bareng.

Tapi sebelumnya sempat foto-foto di Rumah Sultan yang sekarang jadi museum, trus patung Ganesha dan patung Buddha.
Lihat aja nih foto-fotonya…Palembang dan yang difoto memang cantik mempesona.

Besoknya aku dan Siska cerita ke pak Sofian…hehehe…pak Sofian bilang ..”dasar anakcimg0215_resize.jpg-anak bandel…orangtua lagi Di Patung Buddhameeting trus buru-buru balik hotel karena mikirin dua wanita….eh!! malah ngelayap ga bilang-bilang….” (soalnya pak Sofian balik hotel ngebel ke kamar kami kok ga ada jawaban….dikira tidur ga taunya kabuuur…)

Posted by: lyntrias | February 3, 2008

Trus…mau gimana?

Ga perlu dibahas lagi lah ya soal berapa banyak orang yang sengsara-menderita-menggigil karena banjir Jumat 29 Januari kemaren. Yang aku perhatikan sih…sekarang frekwensi Jakarta kebanjiran jadi sering. Kalau dulu 5 tahunan trus jadi 3 tahunan trus jadi 2 tahunan….sekarang jadi tiap tahun. Kalau udah begini yang disalahkan alam. Padahal dari dulu ya…yang namanya hujan badai panas ya..selalu datang silih berganti. Trus kalau bukan alam….yang salah siapa dong? Pertanyaannya kan jadi gitu. Pertanyaan yang naif ya…kalau dipikir. Lha…wong sudah jelas salahnya manusia khususnya pemprov DKI.

Wah…sori ya…kalau aku nyalahkan pemprov DKI. Sebab yang kasih ijin bangun gedung-gedung, mall, pusat-pusat perbelanjaan…. siapa lagi kalau bukan pemda. Sementara itu kita lihat dan saksikan sendiri, belum pernah ada program yang berjudul pembangunan terowongan air, atau program sungai bebas sampah….atau program-program lain yang bisa meminimalisasi banjir.

Pembuangan sampah rasanya juga belum dikelola dengan baik. Beda banget dengan luar negeri (…hehehe ini kata teman-teman yang udah pada ke sana….tapi bener kok )…. Di sana itu tong sampah aja dibedakan warnanya untuk tong sampah organik dan non organik. Dan ga ada tuh yang tinggal persis dipinggir sungai kayak di sini….(coba perhatikan di setiap sungai pasti ada rumah-rumah non permanen yang bangun persis dipinggir sungai). Mereka yang tinggal di pinggir sungai, menganggap sungai itu adalah tempat sampah.

Makanya dong…. pemprov DKI jangan cuma mikirin gedung2, mall, apartemen, hotel, shopping centre, jalan tol ….dan lain-lain sejenisnya…. Cobalah mulai memikirkan proyek-proyek yang berdampak positif pada lingkungan.

Dooooo…..sok nasehatin….

Ah…biarin aja…memang itu kok opiniku. Kalau ada yang ga setuju …. ya…harus setuju!!!

Posted by: lyntrias | January 23, 2008

Dengan Lidah Kita Memuji dengan Lidah Pula Kita Mencaci

Baru-baru ini aku mengalami satu peristiwa dimana teman dekatku yang sering banget memuji-muji aku (hehehe…untungnya aku ga pernah keblinger atau geer an dengan pujian) mencaci aku hanya karena ketidaksenangannya mendapat protesku. Terus terang aku kaget mendengar cacian nya… tapi kupikir lebih lanjut…jangan-jangan memang itu yang dirasakannya selama ini.  (ga perlu disebut lah ya…caciannya apa)

Yah… karena aku ingin memiliki jiwa yang damai, dan mencoba menjadi a good loser… jadi aku mencoba menerima dengan baik caciannya dan kujadikan refleksi batin. Setelah itu terpikir olehku…tentang lidah kita. Tapi bahwa lidah memuji atau mencaci sebenarnya bukan salahnya lidah…sebab lidah digerakkan oleh pikiran kita kan. Pikiran kita dipengaruhi oleh panca indra kita. Ketika kita melihat, mendengar, merasakan….maka pikiran kita segera menilai, dari penilaian itu bisa disalurkan lewat lidah, lewat tulisan atau disimpan sendiri.

Jadi judul di atas bagaimana dong…tepat ga ya… Kalau tepat ya kasihan lidahnya…dia kan alat ya…  Ya sudah…daripada lidah dijadikan ‘kambing item’ lebih baik kita kendalikan aja deh…pikiran kita.

Salam damai

Posted by: lyntrias | January 15, 2008

Bolehkah Karyawan Mempunyai ‘Side Job’?

Kalau Anda seorang pemilik perusahaan, atau menjabat posisi manajer di suatu perusahaan bagaimana sikap Anda jika mengetahui bahwa bawahan Anda mempunyai pekerjaan lain selain bekerja pada Anda ?

Saya pribadi berpendapat bahwa itu boleh-boleh saja, dengan catatan tidak mengorbankan waktu, tenaga  dan pikiran yang sudah dia sepakati untuk dijual ke kita. Dijual… ?? Ya…ketika menerima seorang karyawan, maka di situ terjadi transaksi dan kesepakatan bahwa calon karyawan setuju memberikan waktu, tenaga dan pikiran nya untuk perusahaan kita. Sebagai imbalannya dia menerima “gaji” yang juga sudah sama-sama disepakati kedua belah pihak.

Saya pernah menemukan dalam salah satu perusahaan yang kebetulan di perusahaan tersebut saya dipercaya untuk mengelola, ada beberapa karyawan yang memiliki pekerjaan lain (hehehe….termasuk saya). Terhadap karyawan yang demikian, biasanya saya ajak bicara tentang bisnisnya dan saya memberi dia penekanan agar bisnis itu dikerjakan benar-benar di luar jam kerja. Saya beri dia tips yang bisa dia lakukan agar bisnisnya dan pekerjaannya bisa terselesaikan dengan baik.  Saya bisa memberi masukan karena saya mengalaminya dan sampai terakhir masa kerja saya di perusahaan tersebut, saya tidak pernah mengecewakan pemilik dan melunturkan kepercayaan yang telah diberikan ke saya.

Mengapa saya tidak keberatan jika ada karyawan atau bawahan yang memiliki usaha sampingan? Jawabannya adalah karena dari dalam diri mereka terdapat mental entrepreneur . Seorang entrepreneur adalah orang yang mempunyai visi, kreatif, inovatif, berorientasi pada laba, berorientasi pada pertumbuhan, berjiwa sosial, berani menanggung resiko, berjiwa kompetisi, tulus, menjaga reputasi,tidak mentuankan uang dan sanggup berteman dengan perubahaan.

Tapi …(masih ada tapinya)…kita sebagai pemimpin jangan lengah…karena biar bagaimanapun mereka telah menjual waktunya untuk kita. Pengawasan dalam bentuk pertanggungjawaban pekerjaan tetap harus ketat. Orang-orang seperti mereka jangan pernah dijadikan lawan karena jika mereka bisa tetap kita jaga justru dalam diri merekalah bisa diserahkan tanggung jawab yang lebih besar. Biasanya…mereka bisa mengatur sendiri waktunya dengan baik.

Salam entrepreneur

Posted by: lyntrias | January 10, 2008

Sedih Karena Tidak Bisa

Kemarin sepulang kerja aku mendapati anakku yang sedang duduk di kelas 1 SD, sedang serius menulis sesuatu. Ketika aku dekati dan tanya sedang nulis apa, dia tidak menjawab dan terus menulis dengan raut wajah yang kelihatan kesal. Setelah ku amati rupanya dia sedang belajar menulis latin ‘halus kasar’. Anakku kelihatan kesulitan sekali dan tak lama  kemudian dia berhenti sambil menekukkan wajah dan terlihat sangat kesal sekali. Aku menawarkan diri untuk membantunya tapi dia tidak mau karena dia sudah tau tetapi tidak bisa dan lagipula katanya temannya di sekolah sudah mengajarinya.
Akhirnya aku mencoba menenangkan dia dengan memeluk dan membelainya sambil minta dia mengutarakan kekesalannya. Awalnya dia tidak mau bilang dan ketika ku peluk dia malah nangis, tetapi setelah terus aku membujuk akhirnya anakku mau mengutarakan kekesalannya. Akhirnya muncullah dialog kami seperti ini
Gita (anakku)    : aku sedang marah, ma..
Aku        : marah sama siapa? Marah sama mama?
Gita        : engga ma…
Aku        : marah sama mbak ?
Gita         : engga
Aku        : marah sama papa?
Gita        : engga

Aku        : trus, marah sama siapa? Ayo cerita ke mama, siapa tau mama bisa bantu
Gita        : aku marah sama diriku sendiri ma….

mendengar jawaban anakku, aku kaget dan tiba-tiba aku sadar bahwa aku juga sering kesal pada diriku sendiri.
Aku        : marah sama diri sendiri? Kenapa?
Gita        : iya ma… selalu terjadi sama aku..
Aku        : apanya yang selalu terjadi
Gita        : iya selalu terjadi sama aku. Aku tidak bisa
Aku        : tidak bisa apa?
Gita        : ya itu aku tidak bisa menulis halus
Aku        : latihan tadi diberikan oleh bu guru kepada semua teman-teman, atau cuma kepada gita?
Gita        : cuma ke aku ma… karena teman-teman sudah selesai aku belum
Aku        : ya sudah tidak apa-apa tidak bisa sekarang, kalau terus mencoba dan belajar pasti  bisa, nanti mama ajari                       ya..
Gita        : tapi aku tidak bisa ma! aku bilang aku tidak bisa!

Wah…terus terang aku kaget juga mendapatkan perkembangan pola pikir anakku. Sesuatu yang sering aku rasakan dan sekarang aku harus memberi dia motivasi agar dia yakin bahwa dia bisa.
Akhirnya dengan segala upaya…(terpaksa diiming-imingi coklat) dia mau mencoba dengan senang hati, dan hasilnya lebih baik daripada ketika dia mengerjakan latihan dengan pesimis.
Aku tidak bisa paksa dia untuk menyelesaikan tugasnya sekaligus karena dia kelihatan sudah ngantuk. Untungnya latihan itu tidak dikumpulkan.

Dari sini aku belajar, bahwa tidak bisa mengerjakan sesuatu memang bisa membuat kita emosi.Lalu dengan memotivasi anakku, sama saja aku memotivasi diriku sendiri. Juga karena aku pernah merasakan marah pada diri sendiri, akhirnya aku sangat empati dengan kekesalan anakku, sehingga aku bisa bersikap sabar untuk meredakan emosinya. Kalau aku tidak pernah mengalami pasti aku justru memarahi, atau memaksa anakku untuk mengerjakan hari ini juga.

Terimakasih Brigita, sikap kamu membuat mama makin termotivasi untuk tidak gampang menyerah jika belum bisa mengerjakan sesuatu. Semoga mama dan gita bisa terus belajar untuk menyelesaikan setiap tugas dan masalah serta membuang istilah “tidak bisa” jauh-jauh dari pikiran dan perkataan kita.
Tuhan memberkati.

Posted by: lyntrias | January 3, 2008

Anggaran Belanja Negara 50% ditarik di akhir tahun

Judul itu saya ambil dari berita pagi ini di radio. Sebenarnya ini terjadi bukan hanya tahun ini aja. Sudah sering kita dengar Departemen-Departemen dalam Pemerintahan menghabiskan anggaran di akhir tahun dengan membuat program-program yang aneh-aneh.

Sediiiiihhhh……deh!!!

Ya bagaimana ga sedih, sebenarnya para pejabat itu tau ga sih apa fungsi anggaran? Kalau ga tau saya beritau sekarang deh! Nih, fungsi anggaran itu adalah: Read More…

Posted by: lyntrias | December 20, 2007

Impianku “Bahasa Indonesia mendunia”

Bahasa Indonesia mendunia adalah impianku

Boleh dong kita bermimpi bahwa suatu saat bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa internasional. Mengapa tidak? Siapa yang bisa menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional? Tentunya bangsa Indonesia sendiri kan? Satu hal yang patut di contoh dari mantan presiden Soeharto dalam mengupayakan ini adalah bahwa beliau selalu menggunakan penterjemah bila menerima tamu asing. Saya rasa bukannya mantan presiden Soeharto tidak bisa berbahasa Inggris, tetapi beliau mempunyai misi untuk membuat bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional kedua.

Kita lihat, betapa Indonesia mempunyai potensi bisnis yang luar biasa. Banyak orang yang ingin berinventasi di Indonesia. Sekalipun di Indonesia masih terdapat banyak regulasi yang amburadul, saya yakin itu tidak menyurutkan investor untuk melirik bumi Indonesia yang menggiurkan sebagai lahan bisnis.

Lalu apa kaitannya dengan bahasa Indonesia? Ya jelas ada donk… Mereka punya kepentingan dengan Indonesia, tetapi anehnya kita bangsa Indonesia malah mati-matian mempelajari bahasa asing. Bukankah seharusnya mereka yang mati-matian harus mempelajari bahasa Indonesia? Yang lebih menyebalkan lagi adalah bahwa kita merasa bangga jika kita dapat berbahasa Inggris atau bahasa Asing, sementara kita tidak becus dalam menggunakan bahasa kita sendiri.

Pernah saya menyaksikan acara di televisi yang menayangkan tentang pariwisata. Di situ ada wawancara dengan salah satu turis asing. Saya senang sekali karena mereka di wawancarai dengan bahasa Indonesia. Dan sungguh menyenangkan dan mengharukan bahwa mereka bisa berbahas Indonesia dengan baik.

Mempelajari bahasa asing adalah baik dan memang suatu keharusan. Tapi janganlah itu merupakan suatu kebanggaan sehingga kita melupakan bahasa kita sendiri.

Salam nasionalisme.

Posted by: lyntrias | December 17, 2007

Ikut Sertifikasi Tenaga Ahli….(moga lulus)

Tanggal 12-14 Desember 2007 kemarin, aku dan Ceo dikirim perusahaan untuk ikut Program Ujian Tenaga Ahli Pengadaan Barang dan Jasa yang diselenggarakan oleh LPPM ITB behalf on Bapenas. Tujuannya supaya perusahaan memiliki personil yang kompeten dalam pengadaan barang dan jasa, sehingga pada saat mengikuti tender kami diharap bisa melaksanakan Kepres no. 80 tahun 2003.

Meskipun cukup melelahkan dan memusingkan karena harus menghapalkan Kepres no.80, kami tetap bersemangat dan optimis untuk lulus. Perlu dicatat bahwa setiap penyelenggaraan program sertifikasi ini peserta yang lulus hanya berkisar 10% dari jumlah peserta.

Aku sempat down juga sih, apalagi sebenarnya Kepres 80/2003 ini lebih ditujukan kepada Instansi Pemerintah.
Menurut peraturan, yang wajib bersertifikasi adalah PNS. Jadi kalaupun peserta yang berasal dari perusahaan swasta lulus ujian, sertifikat itu tidak diakui.

Terkait dengan hal itu, para peserta dari swasta (pendidikan tinggi dan perusahaan) merasa kecewa karena tidak diberitahu dari awal, bahwa program ni hanya untuk PNS. Sampai-sampai ada yang minta uang ujian dikembalikan karena tidak berminat ikut ujian dan ingin mengakhiri pelatihan di hari pertama.
Hari pertama kami masih mendapatkan pemahaman kepres 80 dan latihan menjawab soal. Hari kedua yang rencananya membahas Kepres, akhirnya diisi dengan latihan soal-soal atas permintaan peserta. Maklum sebagian peserta kan PNS yang berjuang untuk selembar sertifikat. Hehehe…persis kayak anak SMA yang sedang mengikuti bimbingan test.
Peserta yang dari instansi swasta termasuk aku, sebenarnya tidak suka dengan cara bimbingan test seperti ini. Karena kalau hanya jawab soal dan menghapalkan sementara kita tidak tau substansinya, ya repot kalau soal yang keluar nantinya beda dengan soal yang dibahas. Tapi para peserta Instansi Swasta hanya bisa pasrah mengikuti sang tutor dan peserta dari PNS.

Soal ujiannya berjumlah 90 soal yang terdiri dari 25 soal tipe B-S; 30 soal tipe pilihan berganda; 10 soal tipe pilihan berganda studi kasus. Waktu mengerjakan 120 menit bersih. No urut Soal ujian dibuat acak, sehingga antara peserta yang berdekatan tidak bisa saling mencontek. Selain itu para peserta sudah diberi nomor ujian dan harus duduk sesuai nomor. Alhasil, yang tadinya aku dan Ceo sudah janjian mau contek-contekan jadi ga bisa…..hehehe…

Diluar dugaan soal yang diuji lebih banyak ke kasus lapangan. Hanya beberapa soal yang dibahas di hari kedua yang muncul. Tapi tidak masalah, karena semua peserta pasti bisa menjawab dengan benar sesuai pendapatnya. Bahwa nanti ternyata pendapat peserta tidak sesuai dengan pendapat penilai dari Bapenas ya urusan nanti, yang jelas aku cuma berharap penilaian yang dilakukan benar-benar obyektif. Karena konon kabarnya masalah sertifikasi ini juga tidak luput dari praktek-praktek KKN. Aku hanya bisa berdoa, semoga ujian sertifikasi kali ini bebas dari unsur KKN sehingga aku bisa lulus. Amin

« Newer Posts - Older Posts »

Categories