Peran Kita Akan Diambil

Dalam Kitab Suci ada tulisan tentang perumpamaan dimana seorang tuan memberikan bekal talenta (keping mata uang)  dengan  jumlah yang berbeda kepada setiap orang tuan tsb sebelum pergi untuk beberapa lama. Orang tersebut harus mengembangkan talenta yang sudah diberikan yang akan dipertanggungjawabkan ketika tuan tersebut kembali. Orang pertama diberi 5 talenta, orang kedua 2 talenta, dan orang ketiga 1 talenta. Sekembalinya dari pengembaraannya, Sang Tuan memanggil orang-orang yang sudah diberi keping mata uang tersebut.

Ternyata orang pertama dan kedua mampu mengembangkan talenta masing2 dua kali lipat, sedangkan orang ketiga tidak mengembangkannya, dia menggali lubang dan menyimpan talenta tersebut dalam lubang itu.

Banyak orang yang mengartikan talenta sebagai suatu bakat dan rejeki. Itu betul…tapi dalam hal ini saya mau melihatnya dari perspektif lain yaitu perspektif keluarga dan pekerjaan.

Dalam perspektif keluarga, kita sudah diberi kesempatan untuk hidup berkeluarga, namun kita tidak tau bagaimana cara memelihara, mengisi dan memaknai kehidupan berkeluarga. Jika Istri atau suami tidak mau atau mungkin tidak tau bagaimana cara membahagiakan pasangannya dan anak-anak, maka perannya bisa saja diambil alih oleh wanita ataupun pria lain. Jika anak-anak tidak bisa merasakan kasih dari orangtuanya, bisa saja peran orangtua dalam mendidik dan mengasihi anaknya diambil alih oleh orang lain misalnya oleh pembantu rumah tangga ataupun oleh lingkungannya.

Dalam perspektif pekerjaan, sering kita tidak menyadari bahwa sebenarnya kita sudah diberi kesempatan untuk mengembangkan karir kita. Misalnya ketika atasan meminta kita untuk mengemban suatu tugas baru yang menantang. Akan tetapi mungkin saja kita mengambil sikap cari aman sehingga kita tidak berani mengambil keputuasan-keputusan yang beresiko, sehingga suatu saat atasan kita akan melihat bahwa pekerjaan yang diberikan kepada kita tidak membuahkan hasil yang maksimal. Maka, bisa dipastikan bahwa atasan kita akan mengambil beban itu dan kemudian akan mengalihkannya kepada orang lain.

Jadi di sini saya belajar bahwa setiap apa yang telah kita terima harus ditumbuh kembangkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Si Pemberi Kehidupan.

Menjalani kehidupan bak melintasi jalan raya

Nyetir sepulang kantor trus ketemu macet trus ketemu sepeda motor yang hobi serabat serobot cukup bikin kepala tambah puyeng. Tapi ketika itu aku mencoba menikmati perjalanan dari kantor ke rumah dan mencoba membayangkan suasana jalan menjadi suatu cerita dan hikmah. Tiba-tiba aja aku berpikir bahwa kok sepertinya sama ya…nyetir mobil dengan menjalani kehidupan.

Menurut aku samanya itu begini,  yang mengendalikan hidup kita adalah kita sendiri sementara situasi diluar sifatnya given dan kita tidak bisa merubahnya. Jadi ketika kita nyetir atau naik sepeda motor kita sedang mengendalikan diri kita untuk mengatasi hal-hal yang terjadi selama kita melintasi jalan raya. Beberapa hal yang mungkin bisa jadi refleksi:

  1. Ketika kita kesal atau biasa saja atau menikmati ketika menghadapi situasi jalan yang ruwet atau orang lain yang tidak tepo seliro ; identik dengan ketika kesal atau biasa saja atau menikmati menghadapi berbagai persoalan dan orang-orang lain yang membuat kita kesal.
  2. Bis-bis besar yang sering seenaknya, aku bayangkan seperti orang-orang yang sok berkuasa, merasa dirinya hebat, merasa dirinya kuat dan tidak peduli dengan nasib orang lain.
  3. Motor-motor atau mobil yang selap selip seenaknya, aku bayangkan seperti orang-orang yang mau dianggap jagoan.
  4. Ketika jalan tiba-tiba macet, aku bayangkan bahwa seringkali kita terjebak dalam problema tetapi tetap masih berharap bahwa di depan sana ada jalan yang lancar. Karena kemacetan di satu titik adalah kelancaran di titik berikutnya.
  5. Ketika kita terlepas dari kemacetan, aku bayangkan bahwa kelegaan yang besar ketika kita dapat melalui suatu masalah.
  6. Ketika kendaraan kita mogok, aku bayangkan bahwa suatu saat kita juga bisa sakit dan perlu perawatan
  7. dan masih banyak lagi ketika, ketika, ketika yang bisa kita bayangkan.

Rasanya asyik gitu loh….membuat suatu imajinasi dari suatu ketidaknyamanan.

Silakan mencoba dan sharing..

Refleksiku: Tuhan menampar aku

Tamparan Tuhan kali ini sebenarnya bukan tamparan pertama. Tapi aku baru sadar bahwa aku sudah ditampar berkali-kali tetapi aku masih mencoba melawan. Sehingga tamparan kali ini aku rasakan sakit sekali. Tetapi aku tidak marah kok sama Tuhan, aku justru bersyukur dan merasakan bahwa tamparan Tuhan ini kurasakan juga sebagai manifestasi dari kasih sayang Tuhan yang begitu besar. Aku masih diberi kesempatan untuk bertobat dan dingatkan agar tidak bandel, tidak egois, patuh kepada rencanaNya dan tidak memutarbalikkan ajaranNya. Yang salah menurut ajaranNya harus kuterima dengan ikhlas hati dan tidak perlu ku olah dengan logika. Begitu juga ajaranNya yang benar yang sering ku anggap merugikan aku harus kupatuhi.

Terimakasih Tuhan, Kau tunjukkan dan Kau ingatkan siapa aku. Ampuni Tuhan semua kebebalanku. Utuslah Roh KudusMu menaungi aku, utuslah para malaikatMu menjaga aku. Jangan Kau pandang semua kesalahanku, namun pandanglah imanku akan Engkau. Buatlah hatiku menjadi tenang, sehingga aku mampu menjalani rencanaMu.

Amin.

Kehidupan Beragama (lanjutan Comment di blog Dewo)

Sedari kecil orangtua ku sangat ketat dalam mendidik keagamaan anak-anaknya. Sehingga aku tau dan sangat paham ajaran Katolik. Dan aku selalu berusaha untuk bisa menjalankan ajaran agama Katolik dengan baik. Tetapi aku sangat hati-hati membicarakan atau membahas hal tentang agama. Yang lebih penting bagiku adalah bagaimana aku menjalani kehidupanku seturut dengan ajaran agamaku. Dan yang terlebih penting lagi bagiku adalah bahwa Yesus Kristus, Nabi Mohammad S.A.W, atau semua yang diagungkan pada setiap agama bukan sosok yang perlu diperdebatkan. Melainkan sosok yang perlu diteladani.

Para pemeluk agama Kristen/Katolik harus berusaha meneladani Yesus dan mengikuti ajarannya, para pemeluk agama Islam harus berusaha meneladani Nabi Mohammad dan mengikuti ajarannya, demikian juga para pemeluk agama Buddha, Hindu.

Sah-sah saja sih, kalau kita ingin mendalami lebih jauh mengenai ajaran agama kita masing-masing dan juga mengenai Tuhan yang kita sembah. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa Tuhan adalah misteri. Akal budi manusia tidak akan sanggup memahami sosok Tuhan. Yang bisa kita pahami adalah ajaranNya dan kemurahan hatiNya yang sungguh besar. Continue reading

Terimakasih Tuhan

Terimakasih Tuhan….

Engkau telah membimbing langkahku hingga di penghujung tahun 2006.

Begitu banyak berkat yang telah aku terima…

Begitu banyak pelajaran yang telah Engkau berikan kepadaku

melalui setiap peristiwa dalam hidupku…

Terimakasih Tuhan….

aku telah merasakan kasihMu dan pertolonganMu…

Engkau tidak pernah memandang kedosaanku…

bahkan Engkau tidak menghukum aku karena salahku

justru Engkau semakin melimpahi aku dengan kasih sayangMu

KasihMu yang kau berikan melalui keluargaku, sahabatku, tetanggaku,teman-temanku…

 

Tuhan….

aku mohon pengampunanMu…karena aku sadar

aku sering lupa bersyukur atas apa yang telah aku terima

aku sering lupa menghitung berkat-berkatMu…

aku lebih sering menghitung apa yang belum aku dapatkan…

Hari ini…permulaan tahun 2007…

penuh harap akan berkat-berkat baru dariMu

namun satu hal saja ya Tuhan…

yang aku inginkan diantara berkat-berkat yang akan aku terima

dariMu di sepanjang tahun 2007 ini…

yaitu….berilah aku kerendahan hati agar aku mampu selalu bersyukur

dan agar aku mampu menerima kasihMu untuk kubagikan kepada sesamaku

 

Tuhan…

Aku milikmu…aku mempercayakan diriku pada kehendakMu…

pakailah aku Tuhan sekehendak hatiMu

mampukan aku menjalani rencanaMu

 

Amin.

1 Januari 2007

Cintakasih dalam perkawinan

Halo Pembaca yang budiman,

Lagi lagi saya bicara tentang Misa Pemberkatan Pernikahan. Sabtu, 2 September 2006 kemarin, saya menghadiri lagi Misa Pemberkatan Pernikahan. Kali ini yang dibahas mengenai hakekat Cinta dalam perkawinan. Misa dipimpin oleh P. Martinus Hadiwijojo. Dalam wejangannya untuk mempelai dan untuk kami yang hadir, dikatakan bahwa begitu janji diucapkan di depan Imam dan para saksi, saat itulah kedua mempelai menyatakan kesanggupannya untuk tidak lagi melihat kepentingan diri sendiri, melainkan kepentingan pasangannya dan anak-anak yang dianugerahkan nantinya. Setiap apa yang dilakukan semata-mata adalah untuk kebahagiaan pasangannya.

Syukur kalau nantinya setelah berjalannya waktu, pasangan suami istri ini masih bisa terus menjaga getar-getar cinta seperti yang dirasakan saat ini. Tetapi nantinya setelah hidup bersama semuanya akan terasa biasa saja dan keegoisan satu sama lain mulai terlihat.

Jadi hendaklah setiap pasangan meneladani Cinta yang diajarkan oleh Yesus. Yesus tidak pernah berkorban untuk dirinya sendiri dan membiarkan orang-orang menderita. Yesus rela berkorban karena Dia ingin kita bahagia, Dia ingin kita selamat.

Semoga kita semua terutama yang sudah berkeluarga hendaknya selalu memohon rahmat Cintakasih seperti yang diajarkan Yesus Kristus.

Mengapa Perlu Berpuasa

Dalam setiap agama ada anjuran untuk berpuasa dan ada bulan tertentu yang digunakan sebagai bulan berpuasa. Dalam agama Islam ada bulan Ramadhan dan dalam agama Katolik ada bulan Prapaskah. Untuk Hindu ada Hari Nyepi. Peraturan berpuasa dalam setiap agama tentu berbeda, tetapi intinya adalah pertobatan.

Tanggal 3 Maret hingga 14 April 2006 atau selama 40 hari umat Katolik berada dalam masa Prapaskah. Umat Katolik mempunyai peraturan berpuasa yang unik. Gereja hanya mengatur kewajiban minimal, sehingga bila umat ingin melakukan lebih dari kewajiban minimal boleh saja. Berpuasa dalam bentuk puasa jasmani adalah makan kenyang satu kali dalam sehari. Berpuasa diwajibkan pada Hari Rabu Abu (hari pertama masa pertobatan) dan Hari Jumat Agung (hari peringatan wafatnya Isa Almasih). Hari lainnya selama masa itu cukup dengan berpantang. Berpantang disini adalah tidak melakukan hal-hal yang berkaitan dengan kenikmatan duniawi. Misalnya berpantang jajan, berpantang merokok, berpantang makan daging, dsb.

Ringan sekali ya? Memang, Gereja menginginkan agar umat Katolik mampu melepaskan keterikatannya dari kesenangan duniawi dan keterikatannya dari dosa. Inilah yang sulit dilakukan oleh manusia. Dengan dibantu melalui peraturan berpuasa dan berpantang, diharap umat Katolik menyadari bahwa mereka sekarang berada dalam Masa Prapaskah atau masa pertobatan.

Begitu juga dengan agama yang lain, peraturan berpuasa secara jasmani dimaksudkan agar lebih membantu kita untuk menyadarkan diri dari dosa-dosa dan bertobat. Sehingga pertobatan benar-benar dapat dilakukan.
Salah satu ayat dalam Alkitab yang menjadi pegangan dalam masa prapaskah adalah "koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu". Di sini jelas, bahwa yang lebih diinginkan adalah pertobatan sejati yaitu tidak hanya tampak dari luarnya saja melainkan pertobatan yang sungguh-sungguh.

Disamping itu setiap tahun Keuskupan Agung Jakarta menetapkan tema puasa. Tahun lalu temanya "Adilkah Aku?"… sedangkan tahun 2006 ini bertema "Korupsikah Aku?". Semua tema berciri kalimat interogative dan ditujukan pada diri kita sendiri bukan kepada orang lain.