Jangan Terjadi pada Anda

Tadi pagi saudara saya menghubungi saya,.minta saya ikut membantu biaya pengobatan Om kami. Dia mengatakan bahwa malam hari dia ditelpon oleh Om kami bahwa Om kami mau ke rumah sakit tetapi tidak punya biaya.

Duh…rasanya miris ya…soalnya Om kami ini dulunya pengusaha yang sukses. Lima tahun belakangan ini, memang beliau mengalami penurunan bahkan sampai pada kebangkrutan usaha. Sayang sekali ya…

Saya menduga bahwa sepertinya beliau tidak terlalu peduli dengan perencanaan keuangan untuk masa tuanya.
Saya menemui hal ini pada beberapa teman yang juga pengusaha. Mereka tidak tertarik ketika diajak berdiskusi tentang perencanaan keuangan pribadi.

Seandainya saja perencanaan keuangan sudah dilakukan sejak dini, barangkali Om saya tidak mengalami kejadian seperti itu.

Jadi teman-teman, mulailah melakukan perencanaan keuangan yang terarah sejak dini. Jangan sampai kita menderita di masa tua kita.

Salam Perencana Keuangan

Berhitung untuk Masa Depan

Yahh…..hidup sekarang aja sudah sulit, bagaimana bisa berhitung untuk masa depan?

Boleh aja sih berpikir seperti itu… tapi coba direnungkan lagi dengan melihat banyak contoh disekitar kita, mana orang yang serius merencanakan masa depan dan yang memang mau mengalir saja mengikuti arus. Kalau mau lihat contohnya lihat yang sudah usia pensiun… Ada yang enjoy menikmati masa pensiunnya dan banyak juga yang akhirnya jadi sakit-sakitan stress karena ga punya apa-apa.

Eiitt…jangan bilang kalau itu memang nasib…. pleeaazzeee… coba dulu… Kalau bicara level materi sih…oke saya setuju bahwa setiap orang diberi berbeda, tapi pada level kebahagian dan bisa menghidupi masa tuanya sendiri?…menurut saya kita bisa merencanakannya.

Ya udah….sekarang tinggal ngitung aja…  Yuk kita mulai:

  1. Tentukan dulu anda mau hidup seperti apa pada usia ke-xxx. Usia dimaksud adalah usia harapan hidup anda berhenti di usia berapa… (eiit..!!! lagi-lagi kita abaikan dulu bahwa “hidup dan mati” di tangan Tuhan).. mutlak SETUJU. Tapi biar bagaimanapun anda pasti punya harapan untuk bisa hidup sampai umur kesekian. Nah! umur itu yang saya maksudkan.
  2. Sekarang umur anda berapa, kurangkan usia harapan hidup anda dengan umur anda saat ini. Nah…itulah sisa waktu yang kita miliki (menurut ukuran kita…SAH!!)
  3. Trus coba pikirkan dan tentukan, sampai usia berapa anda bisa bekerja/menghasilkan uang dari pekerjaan. Lalu hitung berapa tahun anda masih bisa bekerja.
  4. Kurangkan sisa waktu dengan anda dengan sisa waktu bekerja. Maka itu adalah waktu dimana anda akan hidup tanpa penghasilan.
  5. Lalu, selama anda tidak memiliki penghasilan…anda mau membangun pola hidup seperti apa? Dan berapa biaya setahun yang dibutuhkan untuk pola hidup yang anda inginkan tersebut?
  6. Kalikan biaya tersebut dengan waktu yang dihitung pada no 4.   Berapa hasilnya?? 200jt?, 500jt?, 1 milyard?… BANYAK YA? Angka itulah yang harus anda miliki ketika anda pensiun atau tidak memiliki penghasilan lagi.

WOW…!!!! Stresss…!!! mikirin yang sekarang aja belum beres…

YA…itulah kenyataan… hitungan itu belum selesai..karena ada tips dan trik yang harus anda lakukan supaya bisa memenuhi angka itu.

Tapi harus dilihat case by case, karena hal itu harus dikaitkan dengan kekayaan yang kita miliki saat ini, dan aspek-aspek lain yang baru bisa diketahui ketika saya bertemu dengan klien saya.

Ora Et La’ bora..

Apa itu masa depan?

Masing-masing kita mempunyai persepsi sendiri tentang masa depan, tergantung dari perspektif apa kita melihatnya. Namun  secara umum saya berpendapat bahwa masa depan adalah gambaran keadaan pada beberapa kurun waktu ke depan sebelum kita meninggal.

Jadi kalau kita bertanya pada diri kita sendiri, bagaimanakah masa depanku? Berarti kita sedang memikirkan seperti apakah gambaran tentang kehidupan kita pada beberapa kurun waktu ke depan.

Kita wajib bersyukur jika pertanyaan itu muncul dalam benak kita. karena itu menandakan bahwa kita menyadari bahwa kita harus merencanakan sesuatu. Sebagian besar dari kita, pasti tidak memikirkan situasi yang buruk tentang masa depan kita. Kecuali kita tergolong orang yang mudah putus asa.

Dengan berpikir positif tentang gambaran masa depan yang ingin kita miliki, mau tidak mau pikiran kita akan terarah pada upaya-upaya untuk mencapai gambaran atau impian masa depan tersebut.

Jika kita adalah orang awam bukan seorang rohaniwan, sudah tentu yang pertama menjadi tujuan kita bekerja adalah mengumpulkan kekayaan untuk mewujudkan apa yang kita inginkan. Yang bahaya adalah jika kita tidak tahu apa tujuan kita bekerja atau kita tidak tau bagaimana kita memanfaatkan hasil kerja kita.

Selain dari persoalan tentang keinginan kita di masa depan, kita sebagai manusia biasa tidak bisa menghindar dari siklus kehidupan yaitu lahir, besar, menempuh pendidikan, menikah, memiliki keturunan, menikahkan anak, menjadi tua, kemudian kembali kepada sang pencipta.

Yang patut dipertanyakan adalah apakah kita mengetahui atau mengenali kebutuhan kita di setiap siklis tersebut? atau kita membiarkan semua berjalan dengan sendirinya seperti air mengalir ke dataran yang lebih rendah?

Jika kita sudah mengetahuinya, maka saya bisa pastikan bahwa pastikan bahwa anda sudah mempunyai rencana yang mantap sampai dengan siklus terakhir.

Namun jika kita sudah tahu tetapi belum melakukan rencana yang baik pada setiap siklus, maka mulai dari sekarang buatlah rencana yang baik bagi diri kita sendiri maupun bagi keluarga kita.

Next, kita akan membahas lebih detail tentang bagaimana kita merencanakan setiap siklus kehidupan kita untuk mencapai gambaran tentang masa depan yang kita inginkan.

Bagaimana kita merencanakan masa depan ?

Pada hari pertama mengajar di setiap semester, khususnya pada mahasiswa baru saya selalu menanyakan “Apa tujuan kalian kuliah?” … jawabannya kebanyakan ngga jelas.  Sayang sekali.Namun saya tidak bisa menyalahkan hal ini karena anak-anak muda usia sekolah saat ini terutama di Jakarta, sudah terbiasa dengan kemapanan. Yang paling menyedihkan dari jawaban mereka adalah bahwa ada yang menjawab “Karena terpaksa dan disuruh orang tua..”  Padahal saya sendiri berusaha mencari jalan agar saya bisa kuliah dan memenuhi cita-cita saya…

Baik, kembali ke masalah masa depan, pada tulisan sebelumnya saya mendefinisikan masa depan adalah keadaan kita menjelang saat kita meninggalkan dunia ini. Wow!!! seperti apa itu? Tua renta miskin sakit-sakitan, atau Tua tapi masih gesit sehat dan kaya? Pastinya kita milih opsi yang kedua kan?

Lalu, kalau opsi kedua yang menjadi pilihan kita, pertanyaan berikutnya adalah  “apakah Anda sudah merencanakan masa depan yang Anda inginkan?”  Reaksi atas pertanyaan tersebut tentunya berbeda pada setiap orang tergantung pada usia, tingkat pendapatannya, pola pikirnya, bahkan mungkin pendidikannya. Bahkan jika pertanyaan itu kita lemparkan kepada orang yang sangat religius, jawabannya sudah pasti…”masa depan saya ada di tangan Tuhan”  Lalu ada lagi sesuatu yang kita percaya yaitu lahir, jodoh, rejeki dan maut Tuhan yang menentukan.

A..ha..!!! setuju..!!.tapi ingat Tuhan hanya akan menolong hambaNya yang mau berusaha menolong dirinya sendiri. Tuhan tetap ingin kitalah yang aktif mengusahakan apa yang menjadi tujuan kita, sementara kita berdoa memohon bantuan dan ridho dari-Nya.

Ketika saya berbincang-bincang dengan banyak orang tua, saya sering mendapatkan bahwa kebanyakan (berarti tidak semua) orang tua generasi  abad 21  bekerja sekuat tenaga untuk menjamin masa depan anak-anak mereka. Apalagi yang berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah, orang tua abad 21 ini menginginkan agar anaknya tidak susah seperti yang mereka alami. Sehingga, satu hal yang terlewatkan dalam perencanaan orangtua modern ini adalah bagaimana mereka menjamin hidup mereka sendiri di masa tuanya yang nota bene bisa kita sebut di masa depannya.

Lagi-lagi budaya kita adalah budaya kekeluargaan. Sehingga tidak jarang masih ada pemikiran para orang tua yang akan menggantungkan masa depannya pada anak-anaknya kelak, karena mereka bekerja saat ini untuk masa depan anaknya. Masalahnya adalah apakah pola budaya ini bisa kita pertahankan selamanya?Pada tahun-tahun  mendatang…budaya itu bisa saja berubah total. Orang tua tidak lagi bisa menggantungkan masa depannya atau hidup masa tuanya pada anaknya.

Jadi….mau tidak mau…kita harus berhitung bukan? Bagaimana cara berhitungnya? Kita bahas di tulisan berikutnya ya..

Bolehkah Karyawan Mempunyai ‘Side Job’?

Kalau Anda seorang pemilik perusahaan, atau menjabat posisi manajer di suatu perusahaan bagaimana sikap Anda jika mengetahui bahwa bawahan Anda mempunyai pekerjaan lain selain bekerja pada Anda ?

Saya pribadi berpendapat bahwa itu boleh-boleh saja, dengan catatan tidak mengorbankan waktu, tenaga  dan pikiran yang sudah dia sepakati untuk dijual ke kita. Dijual… ?? Ya…ketika menerima seorang karyawan, maka di situ terjadi transaksi dan kesepakatan bahwa calon karyawan setuju memberikan waktu, tenaga dan pikiran nya untuk perusahaan kita. Sebagai imbalannya dia menerima “gaji” yang juga sudah sama-sama disepakati kedua belah pihak.

Saya pernah menemukan dalam salah satu perusahaan yang kebetulan di perusahaan tersebut saya dipercaya untuk mengelola, ada beberapa karyawan yang memiliki pekerjaan lain (hehehe….termasuk saya). Terhadap karyawan yang demikian, biasanya saya ajak bicara tentang bisnisnya dan saya memberi dia penekanan agar bisnis itu dikerjakan benar-benar di luar jam kerja. Saya beri dia tips yang bisa dia lakukan agar bisnisnya dan pekerjaannya bisa terselesaikan dengan baik.  Saya bisa memberi masukan karena saya mengalaminya dan sampai terakhir masa kerja saya di perusahaan tersebut, saya tidak pernah mengecewakan pemilik dan melunturkan kepercayaan yang telah diberikan ke saya.

Mengapa saya tidak keberatan jika ada karyawan atau bawahan yang memiliki usaha sampingan? Jawabannya adalah karena dari dalam diri mereka terdapat mental entrepreneur . Seorang entrepreneur adalah orang yang mempunyai visi, kreatif, inovatif, berorientasi pada laba, berorientasi pada pertumbuhan, berjiwa sosial, berani menanggung resiko, berjiwa kompetisi, tulus, menjaga reputasi,tidak mentuankan uang dan sanggup berteman dengan perubahaan.

Tapi …(masih ada tapinya)…kita sebagai pemimpin jangan lengah…karena biar bagaimanapun mereka telah menjual waktunya untuk kita. Pengawasan dalam bentuk pertanggungjawaban pekerjaan tetap harus ketat. Orang-orang seperti mereka jangan pernah dijadikan lawan karena jika mereka bisa tetap kita jaga justru dalam diri merekalah bisa diserahkan tanggung jawab yang lebih besar. Biasanya…mereka bisa mengatur sendiri waktunya dengan baik.

Salam entrepreneur

Memberi Discount Tanpa Diminta

Hari Minggu kemarin, aku seharian menjaga toko sepatu yang sudah aku mulai sejak sebulan yang lalu. Selama sebulan toko itu berdiri, aku baru kali ini menjaga toko sehari penuh dari pagi hingga malam.

Lumayanlah, pada hari itu banyak yang datang melihat model, mencoba, bertanya walaupun tidak membeli. Hari itu aku dibantu oleh salah satu karyawan tokoku. Sambil menjaga aku mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat administrative untuk toko, rumah maupun pekerjaan kantor.

Selagi aku asyik bekerja, ada yang calon pembeli yang datang seorang bapak (aku tidak tidak melihat langsung, hanya dari suara). Si Bapak tersebut mencari sepatu kets no. 40. Rupanya dari model yang dia inginkan nomor tersebut tidak tersedia. Karyawanku mencoba menawarkan model yang lain, tapi rupanya dia tetap ingin model itu dan ingin coba 1 nomor dibawahnya. Continue reading

Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari

Pepatah tersebut adalah pepatah lama tetapi mungkin kurang banyak dipedulikan. Makna dari pepatah itu adalah bahwa segala tingkah laku guru akan ditiru oleh anak didiknya. Ada satu buku yang berjudul Idealitas Pendidikan Nasional yang menggunakan pepatah tersebut sebagai temanya. Membaca pengantar dari buku itu membuat saya tertarik untuk tidak hanya memakai pepatah itu dalam dunia pendidikan di sekolah. Kadangkala, meskipun Guru sudah memberikan contoh yang benar, muridnya belum tentu melakukan sesuai yang dicontohkan. Apalagi kalau Guru tidak memberi contoh sama sekali. Continue reading

Merger??? Siapa takut…??!!!

Apa yang terpikirkan dalam benak anda ketika anda mendengar kata “Merger”? Dalam teori memang disebutkan bahwa merger dalam dunia usaha adalah penggabungan dua usaha yang sejenis yang bertujuan untuk memperkuat posisi perusahaan.

Merger bisa dianalogikan seperti Duda ber-anak menikah dengan Janda yang juga ber-anak. Duda dan Janda tersebut sudah sehati, seia-sekata, berjanji sehidup semati dan membayangkan bahwa pernikahan mereka akan langgeng dan bahagia. Anak-anak tentunya tidak diikut sertakan sebelumnya dalam rundingan-rundingan dan pendekatan-pendekatan tingkat tinggi. Paling hanya anak yang ingin tahu akan mempertanyakan rencana pernikahan Ayah atau Ibu mereka. Sudah tentu Sang Ayah dan Sang Ibu akan menjelaskan seperti apa yang mereka bayangkan dan meminta anaknya memahami rencana mereka. Lalu sang Ayah dan sang Ibu mulai saling mempertemukan anggota keluarga. Para anggota keluargapun senang bisa memiliki anggota baru, meskipun berbagai pertanyaan pasti bermain di kepala masing-masing anggota. Mulai dari akan tinggal dimana, apakah peraturan akan berubah, apakah ayah/ibu yang baru baik hati, dll.

Lalu setelah dengan segala persiapan yang cukup menyita waktu, uang, pikiran dan tenaga mereka meresmikan pernikahan mereka. Dengan mengundang teman-teman dekat dan mengadakan pesta sederhana, mereka memproklamirkan bahwa mereka sudah bersatu.

Akhirnya diputuskan dimana mereka akan tinggal. Sang Ayah tentunya menghendaki semuanya berkumpul di tempat sang Ayah. Tapi rupanya hal ini bisa jadi merupakan ketidak nyamanan bagi anak-anak sang Ibu, sebab sudah terbiasa dengan lingkungan dan situasi rumah yang sekarang. Begitu juga bila diputuskan akan tinggal di rumah Sang Ibu.

Tetapi akhirnya dapat diambil keputusan bahwa rumah sang Ibu masih bisa ditempati meskipun secara resmi semuanya tinggal di rumah sang Ayah.

Masalah lain lagi adalah kebiasaan sang Ayah berbeda dengan sang Ibu. Anak-anak sang Ayah terbiasa dengan peraturan sang Ayah dan demikian sebaliknya. Sehingga peraturan-peraturan atau kebiasaan-kebiasaan baru sulit diterima oleh anak-anak mereka.

Akan menjadi buruk, bila ternyata salah satu anak menyatakan akan cari tempat tinggal sendiri tidak mau bergabung karena merasa kurang nyaman. Selain itu tentunya masih banyak masalah-masalah lain yang berjudul “penyesuaian” yang harus dihadapi dan diselesaikan.

Begitu juga mengenai merger usaha. Tapi jangan diartikan kalau yang merger lima perusahaan, tidak berarti bahwa lima perusahaan itu akan berpasangan berdua-dua. Yang jelas kalau sudah berani merger ya harus berani dengan risiko yang tentunya harus sudah diperhitungkan. Apakah itu merger usaha atau merger duda dan janda akan berhadapan dengan masalah penyesuaian, phk, ketidaknyamana banyak pihak.

 

Hmm yang penting……sebelum merger harus check n recheck, kalau perlu lakukan due diligent.  Hehehe….kalau sudah “pedekate” terus niat mau serius kan biasanya juga melakukan due diligent kan? Biar mantap githcu… loh!!!

Nah…selanjutnya supaya pasca merger berjalan dengan baik…memang dibutuhkan kesabaran dan treatment bila ada yang perlu di treat. Dan jangan lupa peraturan-peraturan baru tentu perlu diberlakukan agar tujuan bersama dapat tercapai.

Percakapan tentang keadilan gaji…

Anak buah 1(Yuyun):

Hey…aku ngga habis pikir, si bos itu cara pikirnya gimana sih!. Masak anak baru dapat gaji bisa lebih tinggi dari kita. Mentang-mentang dia Sarjana. Memangnya kalau sudah sarjana pasti bisa kerja?

Anak buah 2 (Asep):

Iya…kita udah kerja lebih dari sepuluh gaji segini-gini aja. Kayaknya si bos cuma lihat dari gayanya aja, atau jangan-jangan karena agamanya sama. Atau karena satu suku. Ah…ga tau deh…jadi ga semangat kerja nih. Kayaknya kita perlu ngomong nih sama si bos. Neng Oni aja yang ngomong, kan kalau sama Neng Oni si bos mau ngedengerin.

Anak buah 3 (Oni):

Ah..sama aja. Tapi kalau kalian minta aku ngomong sih boleh-boleh aja. Tapi ntar si bos jadi sentimen sama aku.

Anak buah 2 (Asep):

Halah…si bos ngga sentimen atau sentimen gajimu kan juga segitu-gitu aja. Iya kan? Lagi pula bos kita Ibu Kokom kan bentar lagi resign.

Anak buah 3 (Oni):

Engga ah…aku ngga mau ngomong sama si bos. Tapi kalau kalian mau, aku nanti ngomong sama temennya si bos aja….ke pak Dadang. Kalau pak Dadang kan orangnya baik. Ntar biar pak Dadang aja yang nyampein ke bos kita. Lagipula pak Dadang sama bos kita kan akrab juga.

Anak buah 1 (Yuyun):

Ya udah…gitu juga boleh. Habis nyheshek nih dadanya…tiap mau kerja bawaannya jadi ga semangat.

 Akhirnya dengan langkah pejuang, Neng Oni menghadap ke pak Dadang. Continue reading