Harga Beras Dunia Naik

Duh….sedih deh….Harga minyak dunia naik diikuti harga beras dunia juga naik. Ga bisa membayangkan bagaimana Indonesia-ku menghadapi masalah ini. Soalnya tidak pernah terlihat langkah preventif terhadap semua sumber daya alam. Bahkan terhadap”beras” yang jadi makananan pokok kita, terlihat tidak ada peran dari pemerintah untuk melakukan peningkatan produksi beras. Jangankan meningkatkan produksi untuk bisa ekspor beras, untuk dikonsumsi sendiri saja tidak cukup, malahan masih impor.

Coba saja perhatikan di sepanjang pantura, banyak areal persawahan yang akhirnya menjadi pomp bensin. Entah, apakah pembangunan pomp bensin itu sudah memperhitungkan ratio jarak antar pomp bensin atau tidak. Yang jelas hampir tiap tahun ada penambahan. Selain itu, banyak insinyur pertanian yang membaktikan diri di kota-kota besar yang alhasil hanya menjadi tenaga salesman.

Semestinya setiap tahun harus dibuka area persawahan atau pertanian baru, bukan hanya mal dan kantor-kantor saja yang dibuka. Kan katanya kita negara agraris, iya kan. Mungkin karena kita semua malu jadi orang desa ya.

Memang sih kata Bulog stock kita masih cukup dan naiknya harga beras dunia hanya berpengaruh 7% saja. (lha…7% kok dibilang hanya…!!!). Tapi siapa sih yang bisa pegang omongan pemerintah. Kalau mereka bilang “tidak” biasanya artinya “iya”. Dan mereka tidak akan pernah berani berkata jujur.

Jadi…siap-siaplah untuk mengencangkan ikat pinggang dan mencari makanan pengganti nasi.

Trus…mau gimana?

Ga perlu dibahas lagi lah ya soal berapa banyak orang yang sengsara-menderita-menggigil karena banjir Jumat 29 Januari kemaren. Yang aku perhatikan sih…sekarang frekwensi Jakarta kebanjiran jadi sering. Kalau dulu 5 tahunan trus jadi 3 tahunan trus jadi 2 tahunan….sekarang jadi tiap tahun. Kalau udah begini yang disalahkan alam. Padahal dari dulu ya…yang namanya hujan badai panas ya..selalu datang silih berganti. Trus kalau bukan alam….yang salah siapa dong? Pertanyaannya kan jadi gitu. Pertanyaan yang naif ya…kalau dipikir. Lha…wong sudah jelas salahnya manusia khususnya pemprov DKI.

Wah…sori ya…kalau aku nyalahkan pemprov DKI. Sebab yang kasih ijin bangun gedung-gedung, mall, pusat-pusat perbelanjaan…. siapa lagi kalau bukan pemda. Sementara itu kita lihat dan saksikan sendiri, belum pernah ada program yang berjudul pembangunan terowongan air, atau program sungai bebas sampah….atau program-program lain yang bisa meminimalisasi banjir.

Pembuangan sampah rasanya juga belum dikelola dengan baik. Beda banget dengan luar negeri (…hehehe ini kata teman-teman yang udah pada ke sana….tapi bener kok )…. Di sana itu tong sampah aja dibedakan warnanya untuk tong sampah organik dan non organik. Dan ga ada tuh yang tinggal persis dipinggir sungai kayak di sini….(coba perhatikan di setiap sungai pasti ada rumah-rumah non permanen yang bangun persis dipinggir sungai). Mereka yang tinggal di pinggir sungai, menganggap sungai itu adalah tempat sampah.

Makanya dong…. pemprov DKI jangan cuma mikirin gedung2, mall, apartemen, hotel, shopping centre, jalan tol ….dan lain-lain sejenisnya…. Cobalah mulai memikirkan proyek-proyek yang berdampak positif pada lingkungan.

Dooooo…..sok nasehatin….

Ah…biarin aja…memang itu kok opiniku. Kalau ada yang ga setuju …. ya…harus setuju!!!

Anggaran Belanja Negara 50% ditarik di akhir tahun

Judul itu saya ambil dari berita pagi ini di radio. Sebenarnya ini terjadi bukan hanya tahun ini aja. Sudah sering kita dengar Departemen-Departemen dalam Pemerintahan menghabiskan anggaran di akhir tahun dengan membuat program-program yang aneh-aneh.

Sediiiiihhhh……deh!!!

Ya bagaimana ga sedih, sebenarnya para pejabat itu tau ga sih apa fungsi anggaran? Kalau ga tau saya beritau sekarang deh! Nih, fungsi anggaran itu adalah: Continue reading

Kebodohan vs kelicikan

Dalam perjalanan ke Pontianak penumpang di belakangku seorang ibu kebingungan karena tidak tahu akan kemana. Sehingga dia bertanya pada penumpang di sebelahnya…apa yang harus dilakukan setibanya dia di Pontianak. Rupanya si ibu seorang calon TKI yang mungkin mau dikirim ke Malay atau S’pore. Si Ibu ketakutan karena dia sebenarnya tidak mau dikirim ke luar negeri. Sewaktu di kampung tidak disebutkan dia akan dikirim kemana, cuma ditawari kerjaan. Entah diberi iming-iming apa si ibu dan keluarganya memutuskan setuju ikut si calo, si ibu dan dibawa ke Jakarta. Tetapi rupanya tanpa sepengetahuannya, si calo membuatkan paspor tetapi tetap tidak mau memberi tahu kemana si ibu dan  teman-temannya akan dipekerjakan. Bahkan ketika mereka di Jakarta, mereka di karantina dan tidak boleh mengadakan kontak per telpon dengan keluarganya di kampung.

Akhirnya kami penumpang yang dengar menyarankan agar si ibu melaporkan diri ke polisi sesampainya di bandara Supadio.  Beberapa penumpang menyarankan juga supaya si ibu tidak menunjukkan sikap bingung atau linglung.  Yah…tapi kupikir rasanya tidak ada harapan bagi si ibu. Aku sempat bilang ke si ibu kenapa bingungnya setelah naik ke pesawat…seharusnya begitu akan naik pesawat si ibu lapor ke polisi di bandara Sukarno-Hatta. Jadi kalau harus balik ke kampung kan ongkosnya tidak mahal karena kampungnya di Bandung. Tapi ya namanya bingung dan sekaligus kurang tanggap, ya tidak bisa disalahkan.

Pelajaran yang kupetik dari kejadian itu adalah:

1. Kebodohan sangat berbahaya karena saat ini belum ada perlindungan bagi orang bodoh.

2. Kebiasaan untuk  “teliti sebelum membeli” rupanya masih belum dibudayakan, sehingga mudah terjebak. Kita mungkin lebih sering menggunakan pemikiran “lihat gimana nanti”.

3. Banyak orang yang tidak mengupayakan memberantas kebodohan, namun justru lebih memanfaatkan kebodohan dengan kelicikannya.

4. Pemerintah masih belum serius menggarap pengiriman TKI/TKW  ke luar negeri. Hal sepele seperti itu kok kayaknya ga bisa mengatasi.

Yang bisa meminimalkan kejadian seperti ini hanya “Badan Imigrasi”. Badan Imigrasi adalah PINTU dan petugas Imigrasi adalah PENJAGA PINTU dan yang memegang KUNCI PINTU. Jadi kalau PENJAGA DAN PEMEGANG KUNCI PINTU memiliki mental yang buruk dan tidak memiliki integritas….kejadian seperti ini akan terus saja berlangsung. Selain itu Departemen Tenaga Kerja juga sekarang ini hanya bisa menggarap Undang-Undang Ketenaga Kerjaan yang isinya hanya tuntutan, tanpa mempedulikan kompetensi tenaga kerja.

Semoga bangsa ini segera terbebas dari kebodohan… nah…berarti satu lagi yang harus terlibat…yaitu Departemen Pendidikan.

Ayolah….mulailah bekerja untuk kepentingan bangsa jangan memikirkan kepentingan diri sendiri. Terimakasih.

Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa

Melankolis dulu ah…..

Hari ini 79 tahun yang lalu tercetus sumpah pemuda dala Kongres Pemuda II . Ihik..ihik… udah lama banget yak!!! Kalau dulu yang ikut kongres usianya 20an tahun, jadi sekarang kalau ada yang masih hidup usianya 99 tahun.

Luar biasa ya…. perjuangan para pemuda Indonesia untuk menyatukan bangsa Indonesia yang berada di tempat yang terpisah oleh lautan. Syukurlah hasil perjuangan 79 tahun yang lalu, sampai saat ini masih terjaga. Saat ini Bangsa Indonesia tersebar di 33 propinsi  dan semuanya masih mengakui Tanah Air yang satu, Bangsa yang satu dan Bahasa yang satu yaitu Indonesia. Meskipun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada daerah-daerah tertentu masih belum ikhlas 100% bahwa mereka adalah bangsa Indonesia, dimana ketidak-ikhlasan ini dipicu oleh egoisme pribadi. Bukan saja egoisme dari daerah tersebut, tetapi juga egoisme dari pemerintahan pusat. Daerah yang dimaksud mana…kayaknya ga perlu disebut ya… udah tau sendiri kan?

Nah…kalau sifat egois ini masih saja muncul di dalam diri para pemimpin bangsa, baik pemimpin pusat maupun daerah bisa jadi cita-cita para pemuda yang mengikrarkan Soempah Pemoeda hancur. Huhuhu….sedih dehh…. Kalau soal satu bahasa okelah…. pasti itu bisa dijaga, tapi ya…kalau rasa nasionalisme makin berkurang dan budaya luar terlalu bebas masuknya…jangan nyesel ntar kalau tiba-tiba bahasa Indonesia hilang. Lalu, bagaimana dengan Satu Nusa….? Nah, kalau nanti banyak yang salah persepsi tentang otonomi daerah atau tidak puas dengan pemerintahan pusat, bisa saja satu Nusa akan jadi beberapa nusa… Lalu, bagaimana dengan Satu Bangsa…. hmmmm lagi-lagi pasti terancam kalau satu nusa jadi beberapa nusa yaa…. bisa jadi bahasa Indonesia sudah tidak laku lagi di daerah. Iiih…. jangan sampai deh kejadian.

Kalau gitu, pe er kita bersama yang masih merasa pemuda…untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Dan tugas para pemimpin bangsa untuk memimpin bangsa ini dengan semangat juang yang tinggi untuk kesejahteraan bangsa. Cuma sayangnya sekarang ini, mental para pemimpin bangsa dan para aparat pemerintah sudah mental karyawan. Tidak ada yang bermental entrepreneur.

Udah ah..ngomongnya jadi ngelantur, yang penting…sekarang kita masing-masing berupaya untuk menjaga cita-cita Soempah Pemoeda. Sebab, kalau nanti terjadi disintegration bangsa…baru deh nyesel…trus ngungkit-ngungkit masa lalu.

Oke deh…selamat berjuang untuk semua pemoeda Indonesia. Salam persatuan bangsa!!!

Ada apa dengan Apel Malang?

Saya seorang pengkonsumsi apel malang untuk treatment masalah saya pada alat reproduksi. Treatment ini saya ketahui dari seorang teman yang menurutnya kistanya bisa berkurang bahkan hilang setelah rutin mengkonsumsi apel malang sebanyak-banyaknya setiap hari.

Belakangan ini saya kesulitan mendapatkan apel malang dan apel manalagi di supermarket. Biasanya saya membeli di Giant ataupun Carefour. Sebelum kelangkaan apel malang dan apel manalagi ini, harganya berada di kisaran Rp. 6000,- s/d Rp. 11.000,- per kg bergantung pada kualitas apel.

Berberapa kali saya minta pembantu saya untuk membeli apel malang tersebut ke pasar.Tetapi selalu dikatakan tidak ada, kalaupun ada kualitasnya jelek sekali.

Hari ini saya menyempatkan diri ke Carefour untuk membeli apel malang dan apel manalagi. Akhirnya saya lega karena di Carefour ternyata tersedia apel malang, walaupun saya sedikit heran kenapa jumlahnya sedikit sekali. Biasanya menggunung. Dan saya lebih heran lagi sekaligus kaget karena harga apel malang di Carefour mencapai Rp. 22.500,- per kg. Sungguh fantastis menurut saya. Apalagi harga ini lebih tinggi dari apel import yaitu apel fuji dan apel-apel lain yang harganya Rp. 16.500,- per kg.

Ada apa dengan apel malang. Saya berharap harga ini bukanlah harga permainan pedagang. Karena kalau harga ini tinggi di konsumen tetapi harga beli ke petani apel malang ditekan, sungguh menyedihkan. Semoga tidak ya….

Lalu seandainya penyebabnya adalah karena kelangkaan barang, agak aneh juga. Berarti penanaman tidak terencana dengan baik. Disamping itu, bukankah bila harga barang lokal lebih tinggi, justru akan memacu maraknya buah-buah impor?

Ironis ya…kalau negara kita yang subur makmur gemah ripah loh jinawi ini kekurangan hasil panen.

Atau mau alasan bahwa ini harga dumping? Buat apa?

Sedih dengan tayangan SiDik

Suatu hari aku melepaskan kepenatanku setelah bekerja seharian dengan menonton televisi. Kebetulan siaran yang aku tangkap adalah “SiDik”. Dalam tayangan ini disiarkan mengenai penggebrekan rumah yang kabarnya sudah cukup lama diamati oleh penduduk sekitar bahwa di rumah tersebut tinggal sepasang manusia yang tidak menikah resmi. Yahh…istilah kerennya “koempoel kebo” gitu lho.

 Menyaksikan tanyangan itu, terus terang perasaan iba ku tergugah. Melihat pasangan itu ketangkap basah dalam keadaan “nude”. Duh..!!! saya jadi mikir, yang keterlaluan itu para penggebrek atau pasangan yang “koempoel kebo” itu.

Saya hanya bisa geram melihat pasangan itu diperlakukan seperti binatang. Apakah tidak ada cara yang lebih manusiawi untuk itu?

Tetapi kalau saya pikir lebih jauh lagi, kenapa aparat atau masyarakat terlalu mengurus hal-hal yang sebenarnya sifatnya pribadi dan itu tanggung jawab individu.

Bukannya saya mendukung ‘koempoel kebo”. Tapi perlu dicatat bahwa “koempoel kebo” menurut saya beda dengan praktek prostitusi. Sebaiknya tokok masyarakat (Rt, Rw, Lurah) melakukan pendekatan dengan menanyakan surat penduduk, surat catatan sipil dan sebagainya. Itu lebih manusiawi. Siapa sih diantara mereka yang menggerebek itu yang “tidak berdosa”??

Penerimaan negara di sektor Fiskal

Tulisan di detik.com tentang baru hanya 2% SPT yang diperiksa cukup menggelitik untuk dikomentari. Disebutkan bahwa negara kita baru memiliki 3000-4000 auditor. Kalau setiap auditor hanya mampu mengerjakan 2% dari 100% populasi maka jumlah auditor yang diperlukan untuk menggarap 100% populasi adalah 150000-200000 auditor. Itu untuk seluruh Indonesia lho!!! Jadi kalau dibagi dalam 26 propinsi maka setiap propinsi memerlukan 5700-7700 auditor. Continue reading

Menyikapi Rencana Reshuffle Kabinet dari Perspektif Manajemen

Memimpin suatu Negara tidak ada bedanya dengan memimpin suatu perusahaan. Ada 2(dua) hal pokok yang dibutuhkan untuk memimpin yaitu pertama Leadership skill (ketrampilan kepemimpinan) dan kedua Manajerial Skill (ketrampilan manajemen).

Dalam Leadership Skill yang dibutuhkan adalah ketrampilan berkomunikasi, ketrampilan membina hubungan horisontal dan vertikal, ketrampilan memotivasi yang dalam satu kalimat bisa kita sebutkan ketrampilan menggerakkan orang-orang yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan. Continue reading

Indonesia Berduka Lagi

Belum lagi selesai merehabilitasi Daerah Istimewa Aceh setelah porak poranda akibat Tsunami akhir tahun 2004 yang lalu, Daerah Istimewa Jogjakarta dihantam gempa bumi yang memporakporandakan kota seni tercinta tepatnya tanggal 25 Mei 2006 pukul 5.53 saat belum seluruh penduduk Jogjakarta terbangun dari tidurnya. Ribuan nyawa pun terenggut dengan cepat.

Continue reading