Kemarin sepulang kerja aku mendapati anakku yang sedang duduk di kelas 1 SD, sedang serius menulis sesuatu. Ketika aku dekati dan tanya sedang nulis apa, dia tidak menjawab dan terus menulis dengan raut wajah yang kelihatan kesal. Setelah ku amati rupanya dia sedang belajar menulis latin ‘halus kasar’. Anakku kelihatan kesulitan sekali dan tak lama kemudian dia berhenti sambil menekukkan wajah dan terlihat sangat kesal sekali. Aku menawarkan diri untuk membantunya tapi dia tidak mau karena dia sudah tau tetapi tidak bisa dan lagipula katanya temannya di sekolah sudah mengajarinya.
Akhirnya aku mencoba menenangkan dia dengan memeluk dan membelainya sambil minta dia mengutarakan kekesalannya. Awalnya dia tidak mau bilang dan ketika ku peluk dia malah nangis, tetapi setelah terus aku membujuk akhirnya anakku mau mengutarakan kekesalannya. Akhirnya muncullah dialog kami seperti ini
Gita (anakku) : aku sedang marah, ma..
Aku : marah sama siapa? Marah sama mama?
Gita : engga ma…
Aku : marah sama mbak ?
Gita : engga
Aku : marah sama papa?
Gita : engga
Aku : trus, marah sama siapa? Ayo cerita ke mama, siapa tau mama bisa bantu
Gita : aku marah sama diriku sendiri ma….
mendengar jawaban anakku, aku kaget dan tiba-tiba aku sadar bahwa aku juga sering kesal pada diriku sendiri.
Aku : marah sama diri sendiri? Kenapa?
Gita : iya ma… selalu terjadi sama aku..
Aku : apanya yang selalu terjadi
Gita : iya selalu terjadi sama aku. Aku tidak bisa
Aku : tidak bisa apa?
Gita : ya itu aku tidak bisa menulis halus
Aku : latihan tadi diberikan oleh bu guru kepada semua teman-teman, atau cuma kepada gita?
Gita : cuma ke aku ma… karena teman-teman sudah selesai aku belum
Aku : ya sudah tidak apa-apa tidak bisa sekarang, kalau terus mencoba dan belajar pasti bisa, nanti mama ajari ya..
Gita : tapi aku tidak bisa ma! aku bilang aku tidak bisa!
Wah…terus terang aku kaget juga mendapatkan perkembangan pola pikir anakku. Sesuatu yang sering aku rasakan dan sekarang aku harus memberi dia motivasi agar dia yakin bahwa dia bisa.
Akhirnya dengan segala upaya…(terpaksa diiming-imingi coklat) dia mau mencoba dengan senang hati, dan hasilnya lebih baik daripada ketika dia mengerjakan latihan dengan pesimis.
Aku tidak bisa paksa dia untuk menyelesaikan tugasnya sekaligus karena dia kelihatan sudah ngantuk. Untungnya latihan itu tidak dikumpulkan.
Dari sini aku belajar, bahwa tidak bisa mengerjakan sesuatu memang bisa membuat kita emosi.Lalu dengan memotivasi anakku, sama saja aku memotivasi diriku sendiri. Juga karena aku pernah merasakan marah pada diri sendiri, akhirnya aku sangat empati dengan kekesalan anakku, sehingga aku bisa bersikap sabar untuk meredakan emosinya. Kalau aku tidak pernah mengalami pasti aku justru memarahi, atau memaksa anakku untuk mengerjakan hari ini juga.
Terimakasih Brigita, sikap kamu membuat mama makin termotivasi untuk tidak gampang menyerah jika belum bisa mengerjakan sesuatu. Semoga mama dan gita bisa terus belajar untuk menyelesaikan setiap tugas dan masalah serta membuang istilah “tidak bisa” jauh-jauh dari pikiran dan perkataan kita.
Tuhan memberkati.