Duh….sedih deh….Harga minyak dunia naik diikuti harga beras dunia juga naik. Ga bisa membayangkan bagaimana Indonesia-ku menghadapi masalah ini. Soalnya tidak pernah terlihat langkah preventif terhadap semua sumber daya alam. Bahkan terhadap”beras” yang jadi makananan pokok kita, terlihat tidak ada peran dari pemerintah untuk melakukan peningkatan produksi beras. Jangankan meningkatkan produksi untuk bisa ekspor beras, untuk dikonsumsi sendiri saja tidak cukup, malahan masih impor.
Coba saja perhatikan di sepanjang pantura, banyak areal persawahan yang akhirnya menjadi pomp bensin. Entah, apakah pembangunan pomp bensin itu sudah memperhitungkan ratio jarak antar pomp bensin atau tidak. Yang jelas hampir tiap tahun ada penambahan. Selain itu, banyak insinyur pertanian yang membaktikan diri di kota-kota besar yang alhasil hanya menjadi tenaga salesman.
Semestinya setiap tahun harus dibuka area persawahan atau pertanian baru, bukan hanya mal dan kantor-kantor saja yang dibuka. Kan katanya kita negara agraris, iya kan. Mungkin karena kita semua malu jadi orang desa ya.
Memang sih kata Bulog stock kita masih cukup dan naiknya harga beras dunia hanya berpengaruh 7% saja. (lha…7% kok dibilang hanya…!!!). Tapi siapa sih yang bisa pegang omongan pemerintah. Kalau mereka bilang “tidak” biasanya artinya “iya”. Dan mereka tidak akan pernah berani berkata jujur.
Jadi…siap-siaplah untuk mengencangkan ikat pinggang dan mencari makanan pengganti nasi.