Dengan Lidah Kita Memuji dengan Lidah Pula Kita Mencaci

Baru-baru ini aku mengalami satu peristiwa dimana teman dekatku yang sering banget memuji-muji aku (hehehe…untungnya aku ga pernah keblinger atau geer an dengan pujian) mencaci aku hanya karena ketidaksenangannya mendapat protesku. Terus terang aku kaget mendengar cacian nya… tapi kupikir lebih lanjut…jangan-jangan memang itu yang dirasakannya selama ini.  (ga perlu disebut lah ya…caciannya apa)

Yah… karena aku ingin memiliki jiwa yang damai, dan mencoba menjadi a good loser… jadi aku mencoba menerima dengan baik caciannya dan kujadikan refleksi batin. Setelah itu terpikir olehku…tentang lidah kita. Tapi bahwa lidah memuji atau mencaci sebenarnya bukan salahnya lidah…sebab lidah digerakkan oleh pikiran kita kan. Pikiran kita dipengaruhi oleh panca indra kita. Ketika kita melihat, mendengar, merasakan….maka pikiran kita segera menilai, dari penilaian itu bisa disalurkan lewat lidah, lewat tulisan atau disimpan sendiri.

Jadi judul di atas bagaimana dong…tepat ga ya… Kalau tepat ya kasihan lidahnya…dia kan alat ya…  Ya sudah…daripada lidah dijadikan ‘kambing item’ lebih baik kita kendalikan aja deh…pikiran kita.

Salam damai

7 thoughts on “Dengan Lidah Kita Memuji dengan Lidah Pula Kita Mencaci

  1. FraterTelo says:

    Setuju, kalau pikiranlah yang mengendalikan semua tindakan kita. Semoga teman Anda yang mencaci itu tidak tahu apa yang sedang dilakukannya, sehingga itu bukan keluar dari pikiran sadar dia tetapi dari pikiran bawah sadarnya. Mulanya memang dari pikiran, lalu perasaan, lalu tindakan, dan kenyataan.

  2. Bukan protesnya, tapi lidahmu.

  3. bune says:

    hehehe… iya ya… protes kan keluarnya dari lidah ya?
    Dan lidah diperintah oleh pikiran…
    Jadi intinya pikiran kita mesti dikendalikan ya kan?
    Aku lagi belajar…dan teeruuuusss belajar lagi.

    Thanks pakde

  4. bune says:

    Trimakasih Frater….
    bukankah pikiran bawah sadar itu yang murni?
    Sharing dong frater…tentang pikiran sadar dan bawah sadar…ato bahasa kerennya conscious mind and inconscious mind.

    Ditunggu ya…

  5. Ferry ZK says:

    khan orang bilang “mulutmu harimaumu”

    (* eh OOT yak mulut ma lidah beda yak *)

    jika yang terlahir berbeda dengan yang tersimpan, pujian dan cacian hanyalah sebatas permainan, jangan terpana pada yang tersurat tapi cermati dari yang tersirat…

  6. chocovanilla says:

    That’s way aku gak suka rendang lidah, ato steak lidah ato semur lidah asap, soale kuatir sapinya abis caci mencaci ato puji memuji ;)

  7. bune says:

    Mas Ferry,
    Thanks puisinya

    Mbak Choco,
    kalau sapi nya habis caci cacian weleeh…bisa ketularan ya .. ihik ihik…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s