opiniku

Mari Berbagi

Posted by: Lina Tri Astuti, CFP on: March 15, 2011

Tema APP (Aksi Puasa Pembangunan) tahun 2011, cukup menggelitik. “Mari Berbagi”…. kalimat ajakan singkat, padat, mudah dimengerti tetapi sulit dilaksanakan.
Berbagi pada siapa? Tentunya yang dimaksudkan adalah berbagi pada sesama. Lalu “siapakah sesama yang dimaksud?”
Kata Yesus di Alkitab “sesama-mu” adalah “orang yang paling hina dan menderita”. Dalam kehidupan jaman sekarang, paling nyata yang kita lihat menderita adalah para miskin-papa yang banyak kita temui di jalanan. Memang seringkali kita berpikir bahwa mereka itu malas. Barangkali benar…tapi bisa juga salah. Yang terpenting sekarang adalah keikhlasan hati dalam memberi.
Kalau tidak ikhlas memang lebih baik tidak memberi. Jadi, memberi kepada orang yang tepat, dalam waktu yang tepat dan ukuran yang tepat…adalah sulit. Oleh karena itu, tidak perlu dipikirkan apakah sudah tepat atau belum, kalau ada yang minta, dan kita punya lalu ikhlas… ya langsung saja

Memberanikan diri meninggalkan kendaraan pribadi

Posted by: Lina Tri Astuti, CFP on: January 25, 2011

Sejak hari Senin 24 Januari 2011, saya memberanikan diri untuk meninggalkan kendaraan pribadi dan menggunakan transportasi umum. Memang terasa sedikit bingung untuk jalur-jalur transportasi umum. Jadi harus lebih cermat membaca papan rute bis kota dan bertanya.

Hari pertama saya memutuskan untuk mencoba jalur bis kota biasa, mengambil rute ke Kampung Melayu. Sebenarnya saya ingin mencoba Trans Jakarta, tapi saya kuatir dengan kemacetan di sekitar Cawang. Lumayan, saya merasa enjoy karena saya jadi berolah raga. Saya harus berganti kendaraan 4 kali.Namun, waktu yang terpakai hanya sekitar 80 menit. Biasanya dengan kendaraan pribadi bisa sekitar 90 – 120 menit.

Hari kedua saya mencoba menggunakan Trans Jakarta Koridor 9.  Perjalanan ke kantor akhirnya saya tempuh hanya 50 menit dan tidak capai. Di Trans Jakarta saya berdiri hanya 10 menit.

Pengalaman dua hari ini cukup menyenangkan. Seandainya 20% saja dulu dari pengguna kendaraan pribadi baik mobil maupun sepeda motor mau meninggalkan kendaraannya di rumah dan menggunakan transportasi umum, saya yakin akan banyak manfaat yang di dapat oleh seluruh masyarakat Jakarta. Antara lain rejeki bagi para sopir transportasi umum, berkurangnya kemacetan, kembalinya investasi Trans Jakarta, dan badan sehat karena olah raga.

Kita harapkan juga supaya Departemen Perhubungan, segera berkomunikasi dengan pengusaha transportasi terutama bis kota, agar memperhatikan kesehatan masyarakat dengan tidak mengoperasikan kendaraan yang sudah tua.

Salam metropolitan

Jangan Terjadi pada Anda

Posted by: Lina Tri Astuti, CFP on: January 21, 2011

Tadi pagi saudara saya menghubungi saya,.minta saya ikut membantu biaya pengobatan Om kami. Dia mengatakan bahwa malam hari dia ditelpon oleh Om kami bahwa Om kami mau ke rumah sakit tetapi tidak punya biaya.

Duh…rasanya miris ya…soalnya Om kami ini dulunya pengusaha yang sukses. Lima tahun belakangan ini, memang beliau mengalami penurunan bahkan sampai pada kebangkrutan usaha. Sayang sekali ya…

Saya menduga bahwa sepertinya beliau tidak terlalu peduli dengan perencanaan keuangan untuk masa tuanya.
Saya menemui hal ini pada beberapa teman yang juga pengusaha. Mereka tidak tertarik ketika diajak berdiskusi tentang perencanaan keuangan pribadi.

Seandainya saja perencanaan keuangan sudah dilakukan sejak dini, barangkali Om saya tidak mengalami kejadian seperti itu.

Jadi teman-teman, mulailah melakukan perencanaan keuangan yang terarah sejak dini. Jangan sampai kita menderita di masa tua kita.

Salam Perencana Keuangan

Naik Bus nya Jangan Ambil Jalur nya

Posted by: Lina Tri Astuti, CFP on: January 20, 2011

Judul itu merupakan slogan yang dicantumkan di belakang bus Trans Jakarta.
Seandainya saja semua warga Jakarta mau disiplin dan tidak bersikap BODOH dengan ambil jalur busway (terutama SEPEDA MOTOR…!!! dan BUS)… saya yakin keruwetan jalan bisa dikurangi.
Saya bilang…BODOH!!! bagi orang yang mengambil jalur Trans Jakarta…karena mereka tidak sadar itu membahayakan nyawa mereka sendiri. Tapi anehnya mereka merasa bangga bisa melanggar peraturan…
Memang, banyak orang yang tidak mau patuh aturan karena tidak percaya dengan yang membuat peraturan. Tapi kalau sikap ini terus dipelihara, mau sampai kapan negara kita, khususnya Jakarta akan teratur?
Cobalah…ikuti semua peraturan lalu lintas, dan jangan pernah merasa bangga karena bisa melanggar aturan. Sering saya merasa kasihan kepada petugas lalu lintas, sepertinya mereka disepelekan. Saya rasa petugas lalu lintas harus TEGAS dan jangan mau DISUAP dengan 10 atau 20 ribu rupiah…
Mari kita mulai dengan mendisiplinkan diri sendiri.
Kalau mau ambil jalur Trans Jakarta, lebih baik menikmati jalurnya di atas Trans Jakarta.

Jakarta Macet sudah biasa

Posted by: Lina Tri Astuti, CFP on: January 18, 2011

Sebenarnya saya tidak suka dengan apa yang sering disampaikan masyarakat bahwa “kalau jalan kosong berarti itu bukan Jakarta”… Bodoh sekali!! Kok..ya mau-maunya pasrah dan bilang seperti itu.
Kan keenakan pemerintah kalau hal seperti itu diterima.

Sebenarnya kalau memang mau serius menangani kemacetan di Jakarta, pemerintah harus memprioritaskan pengadaan transportasi umum. Karena saat ini yang sudah siap adalah jalur “Busway or Trans Jakarta” meskipun kita tau itu bukan solusi yang 100% tepat, maka baiklah kita maksimalkan dulu pemanfaatan jalur tersebut. Jadi, armada dicukupkan, dan memindahkan fungsi bis-bis yang saat ini sudah ada menjadi “feeder TransJakarta”.

Selain itu harus disediakan “TROTOAR” yang nyaman untuk pejalan kaki… bukan untuk pedagang kaki lima.. Sediakan tempat pusat pedagang kaki lima untuk interval jarak tertentu… Master plan pembangunan infrastruktur tersebut harus dipublikasikan. Sehingga masyarakat bersiap-siap untuk suatu saat meninggalkan kendaraan pribadinya dan mengggunakan transportasi umum.

MAHAL??? ya iyalah….namanya juga pembangunan infrastruktur… ya pasti mahal, karena itu adalah investasi… tapi, kalau itu digunakan dengan baik, alias tidak di KORUPSI, pasti investasi itu akan menghasilkan suatu tatanan yang baik, yang berujung pada keikhlasan masyarakat membayar pajak untuk berkontribusi pada pembangunan tersebut.
Berharap Jakarta segera terbebas dari kemacetan yang tidak wajar….

O iya…satu lagi, harus dipikirkan juga jalur untuk kontainer dan truk-truk besar, sebaiknya menggunakan jalur Kereta Api. Jadi, pembangunan infrastruktur Kereta Api dan Pelabuhan jangan diabaikan.

Yah…ketinggalan lagi… gini…berani ga membatasi penjualan kendaraan bermotor? Kalo perlu harganya dibuat berlipat-lipat. Jadi kalau mau beli mikir-mikir dulu…sehingga akan lebih milih naik kendaraaan umum. Tapi ini tindakan terakhir aja…soalnya dampaknya luas.  :-)
Salam Metropolitan..

Berhitung untuk Masa Depan

Posted by: Lina Tri Astuti, CFP on: January 18, 2011

Yahh…..hidup sekarang aja sudah sulit, bagaimana bisa berhitung untuk masa depan?

Boleh aja sih berpikir seperti itu… tapi coba direnungkan lagi dengan melihat banyak contoh disekitar kita, mana orang yang serius merencanakan masa depan dan yang memang mau mengalir saja mengikuti arus. Kalau mau lihat contohnya lihat yang sudah usia pensiun… Ada yang enjoy menikmati masa pensiunnya dan banyak juga yang akhirnya jadi sakit-sakitan stress karena ga punya apa-apa.

Eiitt…jangan bilang kalau itu memang nasib…. pleeaazzeee… coba dulu… Kalau bicara level materi sih…oke saya setuju bahwa setiap orang diberi berbeda, tapi pada level kebahagian dan bisa menghidupi masa tuanya sendiri?…menurut saya kita bisa merencanakannya.

Ya udah….sekarang tinggal ngitung aja…  Yuk kita mulai:

  1. Tentukan dulu anda mau hidup seperti apa pada usia ke-xxx. Usia dimaksud adalah usia harapan hidup anda berhenti di usia berapa… (eiit..!!! lagi-lagi kita abaikan dulu bahwa “hidup dan mati” di tangan Tuhan).. mutlak SETUJU. Tapi biar bagaimanapun anda pasti punya harapan untuk bisa hidup sampai umur kesekian. Nah! umur itu yang saya maksudkan.
  2. Sekarang umur anda berapa, kurangkan usia harapan hidup anda dengan umur anda saat ini. Nah…itulah sisa waktu yang kita miliki (menurut ukuran kita…SAH!!)
  3. Trus coba pikirkan dan tentukan, sampai usia berapa anda bisa bekerja/menghasilkan uang dari pekerjaan. Lalu hitung berapa tahun anda masih bisa bekerja.
  4. Kurangkan sisa waktu dengan anda dengan sisa waktu bekerja. Maka itu adalah waktu dimana anda akan hidup tanpa penghasilan.
  5. Lalu, selama anda tidak memiliki penghasilan…anda mau membangun pola hidup seperti apa? Dan berapa biaya setahun yang dibutuhkan untuk pola hidup yang anda inginkan tersebut?
  6. Kalikan biaya tersebut dengan waktu yang dihitung pada no 4.   Berapa hasilnya?? 200jt?, 500jt?, 1 milyard?… BANYAK YA? Angka itulah yang harus anda miliki ketika anda pensiun atau tidak memiliki penghasilan lagi.

WOW…!!!! Stresss…!!! mikirin yang sekarang aja belum beres…

YA…itulah kenyataan… hitungan itu belum selesai..karena ada tips dan trik yang harus anda lakukan supaya bisa memenuhi angka itu.

Tapi harus dilihat case by case, karena hal itu harus dikaitkan dengan kekayaan yang kita miliki saat ini, dan aspek-aspek lain yang baru bisa diketahui ketika saya bertemu dengan klien saya.

Ora Et La’ bora..

Sayang sih dijual, Tapi Harus…

Posted by: Lina Tri Astuti, CFP on: August 27, 2010

Saya mau jual mobil kesayangan saya yang sudah setia menemani aktivitas saya…duuu…segitunya ya…

Mobil Honda City keluaran tahun 1998. Kondisi bagus lho…mesin terawat…

Ditawarkan harga Rp.73jt saja… kondisi bagus,  lihat aja langsung yah…

Telpon saya aja dulu…atau kalo mau nanya lebih detail telpon suamiku aja di 0818148647.. soalnya saya tinggal pakai, yang bantu dan rajin merawat suamiku…

Kunjungan ke Medan dan Danau Toba

Posted by: Lina Tri Astuti, CFP on: April 13, 2010

Akhirnya…setelah lama direncanakan aku bisa mengunjungi Medan kampung halamanku kedua. Aku sengaja mengunjungi Medan bertepatan dengan Tri Hari Suci sampai Hari Raya Paskah. Tujuan utama memang nyekar ke makam Ibu, karena sudah 15 tahun aku tidak pernah nyekar. Kemudian sekaligus mengikuti Tri Hari Suci di Medan lalu ditutup dengan Paskah di Danau Toba. Aku ke Medan bersama keluarga (suami dan anak)

Rasanya lega banget bisa nyampe Medan. Meskipun Medan adalah kampung halamanku kedua (karena aku dibesarkan di Medan), tetapi aku lebih merasa at home ketimbang ketika aku di Semarang. Mungkin karena aku meninggalkan Semarang ketika aku masih kecil. Tadinya sudah merencanakan untuk napak tilas di hari pertama…hehehe…tapi rupanya lebih enak ngobrol dengan adikku…karena sudah 15 tahun tidak ketemu. Akhirnya napak tilasnya hanya sampai di pasar Sei Sikambing…karena pasar tersebut adalah akses masuk utama menuju kompleks perumnas Helvetia. Banyak sekali kemajuan pembangunan di kota Medan, ada Milenium Mal, yang dulunya daerah kumuh.  Aku mencoba mengingat-ingat jalan menuju sekolah ku saat aku masih SD, trus tempat ketika aku jatuh dari motor setelah mengantar kakakku bimbel, juga tempat tinggal kami yang sudah dijual, hehehe…..asyik juga mengenang masa lalu. Anakku belum pernah lihat Becak Mesin… ( di Medan tidak ada becak dayung)… jadi dia ngotot ingin naik…dan dia senang sekali bisa naik Becak Mesin…(di Gorontalo namanya Bentor).

O ya…di sana mie ayamnya aneh lho…kuah ayamnya dibuat agak kental, lalu diberi pelengkap sebutir telur…  aku baru tahu karena dulu waktu aku di Medan, tidak ada mie ayam, yang ada Miso (mie baso). Rasanya sih…biasa aja… Soal makanan yang paling melegakan aku bisa ketemu Sate Kerang dan Mie Rebus  waktu hunting makanan di Kampung Keling. Mie Rebusnya enak lho…bukan seperti mie rebus Jawa… Ini mie rebus India.

Tanggal 1 April, hari Sabtu aku sekeluarga dan adikku sekeluarga, menuju Danau Toba. Kami melewati jalan menuju Pematang Siantar. Di perjalanan aku melihat di pinggir jalan ada opak… wah…tiba2 aku teringat cemilanku dulu hanya Opak dan Orong-orong (krupuk)… Langsung saja kami berhenti dan beli opak.

Singkat cerita kami sudah tidak sabar untuk sampai di Danau Toba…jadi begitu ada tulisan “Horas!! Selamat Datang di Parapat”…wah lega sekali rasanya… Danau Toba indah sekali dilihat dari jauh…hanya sayang cuaca mendung dan berawan… Tapi tetap saja mempesona. Kebetulan kami menginap di hotel Siantar Parapat yang letaknya persis di tepi Danau Toba. Jadi kalau mau nyemplung ke Danau gampang…hehehe.  Kami tidak sempat ke Tomok Samosir, karena sudah malam dan esok pagi harus segera balik ke Medan paling lambat pukul 11.00.

Akhirnya keinginanku untuk Misa Malam Paskah di Danau Toba terwujud. Senang sekali rasa mengikuti Misa dalam suasana sejuk, dan tidak begitu penuh. Paduan suaranya terkesan sederhana tapi bagus, karena suaranya kompak. Kepolosan dan keakraban antar umat sangat terasa. Paduan suara disumbangkan oleh para frater, mudika dan ibu-ibu. Hari Minggu aku tidak sempat ikut Misa Minggu Paskah…karena kami bangun kesiangan dan harus segera bersiap-siap pulang… Rasanya belum puas  di Danau Toba tapi sudah harus pulang. Memang jika ingin menikmati Danau Toba tepatnya 2 malam 3 hari.

Apa itu masa depan?

Posted by: Lina Tri Astuti, CFP on: November 28, 2009

Masing-masing kita mempunyai persepsi sendiri tentang masa depan, tergantung dari perspektif apa kita melihatnya. Namun  secara umum saya berpendapat bahwa masa depan adalah gambaran keadaan pada beberapa kurun waktu ke depan sebelum kita meninggal.

Jadi kalau kita bertanya pada diri kita sendiri, bagaimanakah masa depanku? Berarti kita sedang memikirkan seperti apakah gambaran tentang kehidupan kita pada beberapa kurun waktu ke depan.

Kita wajib bersyukur jika pertanyaan itu muncul dalam benak kita. karena itu menandakan bahwa kita menyadari bahwa kita harus merencanakan sesuatu. Sebagian besar dari kita, pasti tidak memikirkan situasi yang buruk tentang masa depan kita. Kecuali kita tergolong orang yang mudah putus asa.

Dengan berpikir positif tentang gambaran masa depan yang ingin kita miliki, mau tidak mau pikiran kita akan terarah pada upaya-upaya untuk mencapai gambaran atau impian masa depan tersebut.

Jika kita adalah orang awam bukan seorang rohaniwan, sudah tentu yang pertama menjadi tujuan kita bekerja adalah mengumpulkan kekayaan untuk mewujudkan apa yang kita inginkan. Yang bahaya adalah jika kita tidak tahu apa tujuan kita bekerja atau kita tidak tau bagaimana kita memanfaatkan hasil kerja kita.

Selain dari persoalan tentang keinginan kita di masa depan, kita sebagai manusia biasa tidak bisa menghindar dari siklus kehidupan yaitu lahir, besar, menempuh pendidikan, menikah, memiliki keturunan, menikahkan anak, menjadi tua, kemudian kembali kepada sang pencipta.

Yang patut dipertanyakan adalah apakah kita mengetahui atau mengenali kebutuhan kita di setiap siklis tersebut? atau kita membiarkan semua berjalan dengan sendirinya seperti air mengalir ke dataran yang lebih rendah?

Jika kita sudah mengetahuinya, maka saya bisa pastikan bahwa pastikan bahwa anda sudah mempunyai rencana yang mantap sampai dengan siklus terakhir.

Namun jika kita sudah tahu tetapi belum melakukan rencana yang baik pada setiap siklus, maka mulai dari sekarang buatlah rencana yang baik bagi diri kita sendiri maupun bagi keluarga kita.

Next, kita akan membahas lebih detail tentang bagaimana kita merencanakan setiap siklus kehidupan kita untuk mencapai gambaran tentang masa depan yang kita inginkan.

Bagaimana kita merencanakan masa depan ?

Posted by: Lina Tri Astuti, CFP on: November 21, 2009

Pada hari pertama mengajar di setiap semester, khususnya pada mahasiswa baru saya selalu menanyakan “Apa tujuan kalian kuliah?” … jawabannya kebanyakan ngga jelas.  Sayang sekali.Namun saya tidak bisa menyalahkan hal ini karena anak-anak muda usia sekolah saat ini terutama di Jakarta, sudah terbiasa dengan kemapanan. Yang paling menyedihkan dari jawaban mereka adalah bahwa ada yang menjawab “Karena terpaksa dan disuruh orang tua..”  Padahal saya sendiri berusaha mencari jalan agar saya bisa kuliah dan memenuhi cita-cita saya…

Baik, kembali ke masalah masa depan, pada tulisan sebelumnya saya mendefinisikan masa depan adalah keadaan kita menjelang saat kita meninggalkan dunia ini. Wow!!! seperti apa itu? Tua renta miskin sakit-sakitan, atau Tua tapi masih gesit sehat dan kaya? Pastinya kita milih opsi yang kedua kan?

Lalu, kalau opsi kedua yang menjadi pilihan kita, pertanyaan berikutnya adalah  “apakah Anda sudah merencanakan masa depan yang Anda inginkan?”  Reaksi atas pertanyaan tersebut tentunya berbeda pada setiap orang tergantung pada usia, tingkat pendapatannya, pola pikirnya, bahkan mungkin pendidikannya. Bahkan jika pertanyaan itu kita lemparkan kepada orang yang sangat religius, jawabannya sudah pasti…”masa depan saya ada di tangan Tuhan”  Lalu ada lagi sesuatu yang kita percaya yaitu lahir, jodoh, rejeki dan maut Tuhan yang menentukan.

A..ha..!!! setuju..!!.tapi ingat Tuhan hanya akan menolong hambaNya yang mau berusaha menolong dirinya sendiri. Tuhan tetap ingin kitalah yang aktif mengusahakan apa yang menjadi tujuan kita, sementara kita berdoa memohon bantuan dan ridho dari-Nya.

Ketika saya berbincang-bincang dengan banyak orang tua, saya sering mendapatkan bahwa kebanyakan (berarti tidak semua) orang tua generasi  abad 21  bekerja sekuat tenaga untuk menjamin masa depan anak-anak mereka. Apalagi yang berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah, orang tua abad 21 ini menginginkan agar anaknya tidak susah seperti yang mereka alami. Sehingga, satu hal yang terlewatkan dalam perencanaan orangtua modern ini adalah bagaimana mereka menjamin hidup mereka sendiri di masa tuanya yang nota bene bisa kita sebut di masa depannya.

Lagi-lagi budaya kita adalah budaya kekeluargaan. Sehingga tidak jarang masih ada pemikiran para orang tua yang akan menggantungkan masa depannya pada anak-anaknya kelak, karena mereka bekerja saat ini untuk masa depan anaknya. Masalahnya adalah apakah pola budaya ini bisa kita pertahankan selamanya?Pada tahun-tahun  mendatang…budaya itu bisa saja berubah total. Orang tua tidak lagi bisa menggantungkan masa depannya atau hidup masa tuanya pada anaknya.

Jadi….mau tidak mau…kita harus berhitung bukan? Bagaimana cara berhitungnya? Kita bahas di tulisan berikutnya ya..

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.